Kain Tenun Khas Riau

Pertahankan Cara Tradisional, Produk Rumah Tenun Kampung Bandar Sudah Tersebar Hingga ke Amerika

Bila telah menginjakkan kaki di Kota Pekanbaru, rasanya tidak lengkap sebelum memasukkan tenun khas melayu dalam daftar belanjaan.

Penulis: Theo Rizky
Editor: Theo Rizky
tribunpekanbarutravel.com/Theo Rizky
Berbagai hasil tenun khas melayu dapat ditemui di Rumah Tenun Kampung Bandar. Tempat tersebut kini semakin nyaman setelah direnovasi dan telah memiliki berbagai galeri songket. 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU - Provinsi Riau, khususnya Kota Pekanbaru yang kaya akan sejarah dan budaya memiliki beragam pilihan oleh-oleh bagi para pelancong untuk dibawa ke daerah asal.

Namun bila telah menginjakkan kaki di Bumi Lancang Kuning, rasanya tidak lengkap sebelum memasukkan tenun khas melayu dalam daftar belanjaan.

Pada zaman dahulu, kain tenun merupakan bahan pakaian yang hanya boleh digunakan untuk kalangan kerajaan, seperti keluarga, kerabat sultan dan para pejabat kerajaan.

Seiring waktu kain tenun mulai dipakai oleh masyarakat umum dalam acara-acara seremonial, seperti nikahan serta acara adat dan lainnya.

Satu diantara tempat kerajinan yang masih mempertahankan tradisi menenun ada di Rumah Tenun Kampung Bandar yang berlokasi di tepi Sungai Siak, Jalan Perdagangan, Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Pekanbaru, Provinsi Riau.

Tempat tersebut sudah terkenal di manca negara. Bahkan Indonesia Marketing Association (IMA) Pekanbaru menjadikan Rumah Tenun Kampung Bandar menjadi destinasi wajib dikunjungi dalam event IMA Pekanbaru Heritage Walk.

Rumah Tenun itu diperkirakan telah dibangun sejak tahun 1887, rumah panggung yang terbuat dari papan berwarna coklat itu jugah masih sangat kokoh berdiri.

Di depan pintu masuk terdapat sebuah lembaran kertas berisikan penjelasan mengenai ikhwal bangunan tersebut.

Rumah ini merupakan milik H Yahya dan ditempati oleh keluarganya. Sebelum dijadikan Rumah Tenun, pada masa pra kemerdekaan rumah ini pernah dijadikan basis para pejuang, gudang logistik dan dapur umum.

Sedangkan, pasca kemerdekaan sekitar tahun 1958, rumah tersebut digunakan sebagai tempat tinggal Tentara Nasional Indonesia Pusat di era penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera Bagian Tengah khususnya di Provinsi Riau.

Rumah Tenun Kampung Bandar yang berlokasi di tepi Sungai Siak, Jalan Perdagangan, Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Pekanbaru, Riau.
Rumah Tenun Kampung Bandar yang berlokasi di tepi Sungai Siak, Jalan Perdagangan, Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Pekanbaru, Riau. (tribunpekanbarutravel.com/Theo Rizky)

Saat ini, bangunan tua itu dijadikan Rumah Tenun yang dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pucuk Rebung sejak tahun 2012. Dalam rumah tenun itu ada sebanyak 4 Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Untuk pergi ke Rumah Tenun itu pengunjung bisa melewati Jalan A Yani lalu masuk ke Jalan Senapelan dan masuk ke Jalan Mesjid Raya, terus masuk ke Jalan Perdagangan. 

Ketua KSM Pucuk Rebung, Wawa mengatakan, Rumah Tenun Kampung Bandar mulai berdiri sejak tahun 2012 dan terus berkembang sampai sekarang.

"Awalnya rumah tenun mendapatkan bantuan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri pada tahun 2012 berupa peralatan, bahan-bahan, uang, dan pelatihan tenun selama sebulan bagi masyarakat Kampung Bandar. Melalui pelatihan ini masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan mengenai tenun memiliki keterampilan tenun," ujar Wawa.

Keterampilan tenun ini kemudian dikembangkan menjadi sebuah usaha yang memberdayakan masyarakat Kampung Bandar.

Sejak tahun 2012 hingga kini, KSM Pucung Rebung sudah memiliki delapan unit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang berasal dari bantuan Bank Indonesia pada tahun 2017.

Ketua KSM Pucuk Rebung, Wawa tengah menenun dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Rumah Tenun Kampung Bandar
Ketua KSM Pucuk Rebung, Wawa tengah menenun dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Rumah Tenun Kampung Bandar (tribunpekanbarutravel.com/Theo Rizky)

"Bank Indonesia membantu kami berupa delapan unit ATBM pada tahun 2017 untuk meningkatkan produktivitas usaha sehingga pendapatan juga bisa meningkat," ucap Wawa.

Menariknya Rumah Tenun Kampung Bandar adalah satu-satunya yang menggunakan pewarna alami di Riau. "Pewarna Alam itu kita mulai sejak 2016," ungkapnya.

Motif yang digunakan motif standar dan sama umumnya dengan yang ada di Riau mulai dari pucuk rebung, siku awan, siku keluang, itik pulang petang dan sebagainya. "Untuk harganya mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 2,5 juta per lembar," ujar Wawa sambil menenun.

Untuk pembuatannya terang Wawa, tergantung motif dan paling cepat 1 minggu dan paling lama bisa 1 bulan lebih. "Untuk mengerjakannya kita ada 16 orang yang tergabung dalam KSM Pucuk Rebung. Tapi kalau di rumah tenun hanya 2 orang dan sisanya kerja di rumah masing-masing," ucapnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved