Kota Dumai

Kisah Atuk Wis Kelola Bandar Bakau Dumai Agar Bisa Dinikmati Anak Cucu

Bandar Bakau Dumai menyajikan keindahan 24 jenis mangrove (bakau) dari 36 jenis mangrove di Kota Dumai.

Dok Tribun Pekanbaru
Darwis Muhammad Saleh sedang berada di Bandar Bakau , Kota Dumai belum lama ini. 

Dia mengaku, pilihannya untuk menempati kawasan itu bermula ketika PT Pelindo I Dumai hendak melebarkan areal pelabuhan kearah Bandar Bakau.

Atuk  Wis memutuskan untuk melakukan protes dengan cara melakukan okupasi atau pendudukan terhadap lahan di dekat Delta Sungai Dumai tersebut.

"Banyak sekali cerita pada saat itu. Mulai dari tak dianggap bahkan masih banyak masyarakat yang mengaku mempunyai hak atas tanah tersebut dan menebang pohon bakau tersebut," katanya.

"Bahkan waktu itu saya menanam bakau, orang menebang bakau, lalu saya tanam lagi dan terus saya tanam, dan berharap masyarakat sadar akan kelestarian bakau di kawasan ini," tambah Atuk.

Pemilihan nama Bandar Bakau itu, kata Pak Wis, adalah mengambil ide dari penamaan Bandar Serai di Kota Pekanbaru.

Sebagaimana lazimnya orang Melayu, Bandar adalah pusat segala aktifitas dan transaksi dilakukan. Bandar juga identik dengan keramaian dan keriuhan massa.

"Kalau di Pekanbaru ada Bandar Serai, kenapa Dumai tak punya? Saya buatlah namanya pada 2010 Bandar Bakau dan nama itu pula yang dipakai sampai sekarang untuk menyebut kawasan ini," jelasnya.

Bukan tanpa alasan Atuk Wis mempertahankan kawasan Bandar Bakau masih eksis hingga sekarang.

Menurut dia, ada cerita legenda yang sangat mengena dengan masyarakat Melayu yang ia yakin merupakan bagian dari tanaman  Bakau.

Cerita tersebut adalah legenda Putri Tujuh, sebuah cerita legenda yang sangat akrab dengan masyarakat Melayu Riau pada umumnya dan Kota Dumai pada khususnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Theo Rizky
Editor: Theo Rizky
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved