Kota Dumai

Kisah Atuk Wis Kelola Bandar Bakau Dumai Agar Bisa Dinikmati Anak Cucu

Bandar Bakau Dumai menyajikan keindahan 24 jenis mangrove (bakau) dari 36 jenis mangrove di Kota Dumai.

Dok Tribun Pekanbaru
Darwis Muhammad Saleh sedang berada di Bandar Bakau , Kota Dumai belum lama ini. 

"Jadi, pada legenda Putri Tujuh itu diceritakan, bahwa buah bakau merupakan senjata yang mengalahkan bala tentara kerajaan Empang Kuala yang mau memboyong Putri Tujuh ini. Saya pribadi yakin, bahwa buah bakau yang dimaksud dalam legenda tersebut kemudian tumbuh menjadi hutan bakau yang saya diami dan saya beri nama Bandar Bakau sekarang ini karena memang tumbuhnya sangat alami dan sudah ada sejak saya lahir hingga menetap disini sekarang," katanya lagi.

Keberadaan Atuk Wis di dalam Bandar Bakau sejak awal tentunya membangun banyak polemik bagi masyarakat Kota Dumai.

Disisi lain, lelaki yang masa mudanya pernah menjadi pemain teater dan berkesenian ini mengaku, sebagian seniman sudah lebih dulu memanggilnya Sen-Sen, sebuah singkatan dari Seniman Senewen.

Usaha Atuk  Wis dalam menjaga kelestarian Bandar Bakau pun mendapat apresiasi dari negara. 

Tak tanggung, sejumlah penghargaan sudah ia bukukan. Diantaranya, Anugerah Adi Bhakti Mina Bahari 2009 dari Menteri Kelautan, Kader terbaik Konservasi Nasional dari Menhut pada 2010, penghargaan Setia Lestari Bumi dari Gubri pada 2010.

"Gara-gara penghargaan tersebut, Pemko Dumai yang sebelumnya acuh tak acuh dengan Bandar Bakau pun memberikan saya penghargaan Penyelamat Pesisir dari Walikota Dumai Kategori Masyarakat pada 2009. Walaupun sebenarnya, penghargaan itu diberikan tidak sesuai tahunnya. Tapi tetap saya apresiasi, paling tidak keberadaan saya dan Bandar Bakau diakui," sebutnya.

Puncak dari perjuangannya yakni, terbitnya  SK 903 Mentri KlHK tahun 2016 tentang tata ruang Riau, menyebutkan bahwa bandar baku menjadi hutan produksi terbatas, ‎serta didikung oleh perda nomor  10 provinsi Riau tahun 2018, dan didukung perda nomor 15 tahun 2019, sehingga lebih menguatkan status dari Bandar Bakau yang sebelumnya berpolemik deng Pelindo terkait kawasan.

Bersama penghargaan dan Peraturan yang jelas itu pula Atuk  Wis terus berupaya menjaga kelestarian Bakau di Dumai, meskipun awalnya menemui beberapa masalah, seperti dana, namun beberapa tahun belakangan ada bantuan dana baik dari PT. Pertamina RU II Dumai, maupun dari pihak lainya. 

"Kita tidak berpangku tangan saja, Salah satu usaha saya menggalang dana saat ini ada dua. Pertama, dengan melakukan pembibitan batang Bakau yang ternyata dari hasilnya bisa memenuhi kebutuhan bandar bakau,  dan kedua, dengan uang tiket masuk ke Bandar Bakau," paparnya.

Untuk bisa masuk ke Bandar Bakau dikenakan biaya Rp. 10 ribu per kepala bagi orang dewasa, anak-anak Rp 5 ribu, dan anak sekolah Rp 2 ribu. 

Uang hasil penjualan bibit tersebut,  ia gunakan untuk keperluan operasional di Bandar Bakau sehari-hari, dan juga memberikan upah kepada masyarakat yang mau bekerja membantu membuat bibit bakau.

"Saya berharap,  Bakau tidak hanya ada di Bandar Bakau saja, namun juga bisa tetap dilestarikan didaerah lainya, supaya bisa dinikmati anak cucu kita kedepan," pungkasnya.

Ikuti kami di
Penulis: Theo Rizky
Editor: Theo Rizky
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved