Hari Lebah Sedunia 2020 : Menyelamatkan Masa Depan Melalui Konservasi Lebah

Masyarakat Indonesia lebih mengenal lebah madu hanya sebagai serangga penghasil madu saja, padahal masih banyak manfaat lainnya

Penulis: Theo Rizky
Editor: Theo Rizky
Tribunpekanbarutravel.com/Theo Rizky
Sarang Madu Sialang dipotong usai dipanen di Kabupaten Kampar 

Hari Lebah Sedunia 2020 : Menyelamatkan Masa Depan Melalui Konservasi Lebah 

Oleh : Avry Pribadi (Entomology The University of Georgia, US dan Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan) 

Tidak banyak orang bahkan para peternak lebah madu dan penjual produk perlebahan sekalipun yang mengingat bahwa tanggal 20 Mei merupakan hari lebah madu sedunia.

Padahal telah banyak manfaat baik itu ekonomi dan kesehatan yang telah diberikan oleh mahluk yang disebut dalam Al Quran oleh Allah SWT.

Meskipun demikian, mayoritas masyarakat di Indonesia lebih mengenal lebah madu hanya sebagai serangga penghasil madu saja,

padahal ada manfaat lain yang lebih dari sekedar penghasil madu yaitu sebagai serangga pollinator atau penyerbuk.

Avry Pribadi (Entomology The University of Georgia, US dan Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan)
Avry Pribadi (Entomology The University of Georgia, US dan Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan) (Istimewa)

Peran sebagai serangga penyerbuk ini sebenarnya jauh lebih penting dari sekedar menghasilkan madu. Di Indonesia yang memiliki keragaman hayati terbesar ketiga di duniapun, masyarakatnya masih belum merasakan pentingnya keberadaan lebah ini sebagai sesuatu yang penting.

Hal ini justru berkebalikan dengan negara-negara maju seperti di AS dan Eropa yang sudah lebih menghargai keberadaan serangga yang satu ini. 

Bagi orang awam mungkin kesulitan dalam membedakan mana serangga yang termasuk lebah madu atau serangga biasa dan bahkan sering kali terjadi salah identifikasi dengan jenis tawon karena sama-sama hidup berkoloni.

Salah satu karakter yang memudahkan untuk mengidentifikasinya adalah dengan mengenali bagian kaki belakang serangga yang melebar dan berfungsi sebagai “keranjang tepung sari/pollen ataupun propolis” yang juga merupakan sumber protein bagi koloninya.

Sedangkan propolis merupakan materi antioksidan yang berfungsi sebagai antibakteri, antijamur, dan antivirus. Bahkan produk propolis ini dicoba untuk dikembangkan oleh para peneliti di UI sebagai salah satu alternatif obat dalam menanggulangi serangan Covid-19 .  

Indonesia memiliki keragaman serangga lebah madu yang relatif jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara seperti AS dan Eropa.

Pawang Madu memanen Madu Sialang
Pawang Madu memanen Madu Sialang (tribunpekanbarutravel.com/Theo Rizky)

Jika di negara-negara tersebut hanya bergantung pada jenis lebah Apis mellifera sebagai serangga pollinator dan produksi madu, di Indonesia memiliki tidak kurang dari tujuh jenis lebah madu.

Tingginya kekayaan serangga lebah madu ini diibaratkan seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, kita layak berbangga dengan apa yang kita punya.

Akan tetapi di sisi lain terkadang kita menganggap remeh keberadaan lebah-lebah tersebut karena kebanyakan dari kita beranggapan bahwa jika satu jenis lebah punah maka masih ada jenis-jenis yang lain sehingga terkadang kita abai akan hal ini. 

LIPI mencatat sedikitnya ada tujuh jenis lebah madu dari kelompok bersengat yang tercatat pernah ditemukan di Indonesia seperti Apis florea, Apis adreniformis, Apis dorsata, Apis cerana, Apis koschevnikovi, Apis nigrocincta, dan Apis mellifera.

Diantara tujuh jenis tersebut, hanya tiga yang telah mampu dimanfaatkan masyarakat yaitu A. dorsata atau dikenal dengan nama lebah sialang oleh masyarakat Riau,

A. cerana atau lebah timur (eastern honey bees) atau yang lebih dikenal sebagai lebah lokal, dan A. mellifera atau lebah barat (western honey bees) atau yang dikenal sebagai lebah unggul.

Selain jenis lebah bersengat, Indonesia juga memiliki lebah tidak bersengat (stingless bees). Bahkan menurut Kahono, pusat keragaman lebah tidak bersengat di benua Asia adalah berada Indonesia dengan jumlah tidak kurang dari 43 species.

Beberapa diantaranya yang telah banyak dibudidayakan di Riau sekitar satu decade ini, seperti jenis Heterotrigona itama, Geniotrigona thoracica, dan Trigona apicalis.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved