Bernilai Jual Tinggi, Warga Talang Mamak TNBT Budidayakan Jernang, 1 Kg Getahnya Mencapai Rp 4 Juta

Sebelum pandemi Covid-19 , harga satu kilogram getah jernang bisa mencapai Rp 4 juta.

Istimewa
Tanaman jernang yang tumbuh alami di hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh Kabupatan Indragiri Hulu 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, INHU - Keragaman hayati yang terkandung di Taman Nasional Bukit Tigapuluh sangat melimpah.

Salah satu yang ternyata banyak dicari dan bernilai tinggi adalah jernang atau yang sering disebut dragon blood .

Jernang banyak dicari karena harga jualnya yang mahal. Menurut informasi yang diperoleh Tribunpekanbarutravel.com , sebelum pandemi Covid-19 , harga satu kilogram getah jernang mencapai Rp 4 juta.

Oleh karena itu budidaya jernang perlu dilakukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Talang Mamak , sekaligus melestarikan hutan TNBT.

BACA JUGA :

Seekor Gajah Jantan Lahir di TWA Buluh Cina, Gubri Syamsuar Beri Nama Damar

Makam Sultan Syarif Kasim II di Kabupaten Siak Mulai Ramai Diziarahi Warga Luar Daerah

Madi (35), warga Dusun Datai, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu merupakan seorang warga Talang Mamak yang membudidayakan tanaman jernang.

Bahkan kini dirinya sudah bisa melakukan pembibitan sendiri. "Banyak orang yang cari bibit ke saya," kata Madi.

Menurutnya, warga dari Provinsi Jambi rela menempuh medan yang ekstrim menuju Datai untuk bisa mendapatkan bibit tanaman jernang. Satu bibit jernang siap tanam dijualnya Rp 100 ribu.

Madi (35), warga Dusun Datai, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu merupakan seorang warga Talang Mamak yang membudidayakan tanaman jernang.
Madi (35), warga Dusun Datai, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu merupakan seorang warga Talang Mamak yang membudidayakan tanaman jernang. (Istimewa)

Masyarakat Talang Mamak di dalam areal TNBT memang sudah tidak asing lagi dengan tanaman jernang untuk diambil getahnya.

Bahkan menurut sejarah, semenjak zaman Kerajaan Sriwijaya, jernang sudah diperjual belikan. Namun karena konflik manusia dan alam membuat hutan semakin habis, sehingga tanaman yang sejenis dengan rotan itu semakin sulit ditemukan.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Theo Rizky
Editor: Theo Rizky
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved