Destinasi Wisata di Dumai

Pencinta Alam Bahari Impikan Bandar Bakau Dumai Mendunia

Berdirinya PAB merupakan buah pemikiran 17 pemuda Dumai yang saat itu ingin menyelamatkan pesisir pantai dari derasnya pembangunan industri

Penulis: Theo Rizky
Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Atuk Wis di Bandar Bakau Dumai 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, DUMAI - Berawal dari 17 orang putra Dumai yang mengarungi Selat Rupat dengan berenang bebas dari Batu Panjang (Bengkalis), men‎uju Dumai pada tahun 90an lalu.

Mereka merasa iba dan Pesimis dengan kondisi pesisir laut Kota Dumai yang mulai gundul,

serta pesisir ‎pantai yang tidak memiliki tanaman penyanggah dari ombak laut yang menyebabkan Abrasi.

Menurut pandangan 17 anak Dumai tersebut kala itu, Dumai tak memilki laut lagi,

hal itu karena Dumai dipagari oleh industri yang memang saat itu lagi sangat berkembang dengan Amdal nya yang tak jelas.

BACA JUGA :

Dimsum Yang Resmi Dilaunching, Siap Manjakan Pecinta Kuliner di Pekanbaru

Lempuk Durian nan Manis dan Legit, Oleh-oleh Khas Kabupaten Bengkalis

Melihat lingkungan yang akan terus habis jika industri di pesisir laut Dumai terus Dibangun, maka 17 orang anak Dumai itu membentuk organisasi pegiat lingkungan untuk menyelamatkan pesisir pantai Dumai,

organisasi tersebut bernama Pencinta Alam Bahari (PAB). Organisasi Pegiat lingkungan ‎PAB ini resmi didirikan pada 16 Agustus 1999,

Diketuai oleh Darwis Muhammad Saleh, ‎pria kelahiran Kota Dumai, pada 7 Maret 1968 Silam.

Umur dari PAB sendiri sudah menginjak diangka 21 tahun, lebih tua dibandingkan umur Kota Dumai, dengan mimpi yang tinggi masih belum tercapai.

BACA JUGA :

TRAVEL TALK : Berjalan-jalan di Kota Lama Bersama Komunitas Pekanbaru Heritage Walk

Indahnya Lanskap Sawah Koto di Kabupaten Rohul, Objek Wisata Sawah Kedua di Indonesia

Darwis Muhammad Saleh Atau sapaan akrabnya Atuk Wis ‎mengungkapkan,

bahwa berdirinya PAB merupakan buah pemikiran 17 pemuda Dumai, yang saat itu ingin menyelamatkan pesisir pantai dari derasnya pembangunan industri di pesisir pantai Kota Dumai .

‎"Saat kami mengarungi (berenang bebas) Selat Rupat dari Batu Panjang (Bengkalis), men‎uju Dumai, dan tiba di Dermaga C Pelindo, saat itu kawasan hutan bakau dalam keadaan gundul dan terambah," katanya, Minggu (22/8/2020)

BACA JUGA :

Pekanbaru Kota Pertama Penggunaan Aplikasi Teman Sehat, Bisa Bantu Penelusuran Kontak Kasus Covid-19

Semakin Asyik, Program Fox Urban Street Food Terus Disesuaikan dengan Keinginan Pengunjung

Diakuinya, melihat kondisi pesisir pantai yang kian hari semakin hilang akibat dari masifnya ‎pembangunan industri di pesisir,

maka timbul niat untuk menyelamatkan lingkungan dengan membentuk organisasi peggiat lingkungan yang bernama PAB .

Darwis Muhamad Saleh atau Atuk Wis memperlihatkan karya Seni Kerajinan Batik Tulis Bakau atau Batik Bakau buatannya di Bandar Bakau Kota Dumai.
Darwis Muhamad Saleh atau Atuk Wis memperlihatkan karya Seni Kerajinan Batik Tulis Bakau atau Batik Bakau buatannya di Bandar Bakau Kota Dumai. (Dok Tribun Pekanbaru)

Dalam perjalanan nya untuk menyelamatkan lingkungan seperti bandar Bakau ini , tambah Atuk Wis,

PAB sering kali mendapat hambatan, bahkan saat itu pada 2004 ada masterplan perluasan sebuah pelabuhan,

saat itu hutan Bakau masuk dalam masterplan perluasan pembangunan pelabuhan .

Halaman selanjutnya

BACA JUGA :

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved