BBKSDA Riau

BBKSDA Riau dan FFI-IP Survey Keanekaragaman Hayati di Tiga Suaka Margasatwa, Ini Temuannya

BBKSDA Riau mengawasi 10 suaka margasatwa, dua cagar alam, tiga taman wisata alam, satu taman buru, serta satu Taman Nasional Zamrud.

Penulis: Theo Rizky
Editor: Theo Rizky
tribunpekanbarutravel.com/Theo Rizky
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam ( BBKSDA ) Riau, Suharyono (keempat dari kiri) memberi pemaparan saat acara media gathering di Pusat Latihan Gajah Minas , Rabu (16/12/2020) 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU - Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau berada di timur dan tengah dari Pulau Sumatera dan daerah kepulauan, memiliki lebih dari 400 ribu hektare kawasan konservasi.

Kawasan ini dijaga oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau . Tidak tanggung-tanggung, ada 10 suaka margasatwa, dua cagar alam, tiga taman wisata alam, satu taman buru, serta satu Taman Nasional Zamrud.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam ( BBKSDA ) Riau, Suharyono, mengungkapkan bahwa Balai Besar KSDA Riau menjadi penanggung jawab pelaksanaan kegiatan konservasi sumber daya alam hayati yang berada di lokasi kerja.

“Kami bertanggung jawab untuk terjaminnya efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di tingkat tapak pengelolaan untuk keanekaragaman hayati yang berada di dalam dan di luar kawasan hutan,” terang Suharyono.

BACA JUGA :

Perbaikan Jembatan Susur & Pasar Purbakala, Bandar Bakau Dumai Hadirkan Wajah Baru yang Lebih Fresh

Kabar Gembira, Anak Gajah Kembali Lahir di Riau, Kali ini di Balai Taman Nasional Tesso Nillo

Dijelaskannya, ada banyak kegiatan dalam rangka mengelola kawasan konservasi, diantaranya kegiatan dalam monitoring keanekaragaman hayati, Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK), penanganan kebakaran hutan dalam Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Hutan (Satgas Darkahut), penangangan konflik satwa dan klinik satwa, serta adanya pusat latihan gajah.

“Kami tentu tidak bisa bekerja sendiri, masyarakat, perusahaan sekitar serta mitra sangat membantu dalam melindungi kawasan yang sangat luas ini. Salah satu kegiatan dalam melindungi keanekaragaman hayati di dalam kawasan yaitu pengamatan satwa dan pemasangan kamera pengintai (camera trap). Masih banyak jenis satwa dan tumbuhan di dalam kawasan ini,” jelas Suharyono.

BACA JUGA :

Pertama di Sumatera, Masyarakat Pekanbaru Makin Mudah Bayar Parkir di Mal dengan Nontunai

Kisah Program Penanaman Mangrove KLHK di Batas Negara

Kegiatan terbaru yang telah dilakukan oleh BBKSDA Riau dan mitra Fauna & Flora International Indonesian Programme (FFI-IP) yaitu survey keanekaragaman hayati dengan metode jalur pengamatan, survey keberadaan harimau sumatera dengan kamera pengintai, dan patroli dengan menggunakan aplikasi berbasis Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) di tiga dari sepuluh suaka margasatwa di lokasi kerja BBKSDA Riau.

Yaitu Suaka Margasatwa Tasik Belat, Tasik Serkap, dan Tasik Besar Serkap pada Oktober hingga November lalu.

Riau Project Coordinator dari Fauna & Flora International Indonesian Programme , Ryan Avriandy mengungkapkan bahwa tim gabungan dari BBKSDA Riau dan FFI-IP telah melakukan kegiatan lebih dari 300 Km jarak tempuh dengan menggunakan perahu dan berjalan kaki untuk survei satwa dan tumbuhan, dengan cara mengamati jejak, kotoran, cakaran, jalur satwa dan pemasangan kamera pengintai sebanyak 20 kamera.

BACA JUGA :

Serunya Berkeliling Kawasan Sungai Siak Naik Perahu Tradisional di Siak Sri Indrapura

Cerita Pemburu Cacing Pita, Berapapun yang Didapat Tidak Pernah Cukup Memenuhi Permintaan Pasar

“Kami masih banyak menemukan satwa yang menarik dan dilindungi di dalam kawasan. Seperti di Suaka Margasatwa Tasik Belat , kami menemukan tapak, cakaran, dan bekas makan dari beruang madu (Helarctos malayanus), cakaran dari jenis kucing liar, suara dari owa ungko (Hylobates agilis), hingga perjumpaan langsung dengan jenis burung kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus),” jelas Ryan.

Ia menambahkan, dua lokasi lainnya di Suaka Margasatwa Tasik Besar dan Tasik Serkap menemukan 15 jenis burung dilindungi dari 69 jenis yang teramati, tujuh jenis pohon masuk dalam daftar merah IUCN, dua jenis herpetofauna yang terancam punah dan rentan, serta 30 jenis ikan.

BACA JUGA :

Pria ini Jual Bonsai Kelapa Sampai Jutaan Rupiah, Ada yang Bentuk Ayam, Elang, Siput Hingga Monyet

Menikmati Indahnya Ulu Kasok Kampar, Punya Banyak Pilihan Spot Instagramable

Tim BBKSDA Riau juga menemukan ancaman di kawasan dan di luar kawasan. Ancaman berupa pemasangan bubu ikan, pembalakan liar, dan pondok di sekitar Suaka Margasatwa Tasik Belat .

Mengetahui penemuan ini, Suharyono mengungkapkan bahwa untuk memberikan efek jera kepada pelaku, ia memerintahkan kepada tim di lapangan untuk membakar pondok dan menyita alat transportasi milik pelaku.

“Kami sangat peduli akan keberadaan keanekaragaman hayati di dalam kawasan konservasi dan akan serius untuk menindak siapapun yang melakukan kegiatan ilegal di dalam atau sekitar kawasan. Ini kami lakukan agar flora dan fauna di dalam kawasan tidak punah,” terang Suharyono.

Cegah Konflik, BBKSDA Riau Bersama Penggiat Satwa Pasang GPS Collar Pada Gajah Liar

Libatkan Kelompok Tani Kawasan Pesisir, Padat Karya Mangrove di Provinsi Riau Capai 692 Hektare

Miliki Potensi, Warga Desa Sungai Intan Inhil Masih Bingung Memasarkan Hasil Alam dan Gula Merahnya

Program Padat Karya Mangrove KLHK Serap 35 Ribu Lebih Pekerja

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved