Otomotif

Ini Masalah Ban yang Perlu Diwaspadai Saat Curah Hujan Ekstrem

Tidak semua pengendara dapat mengantisipasi kejadian banjir yang tidak terduga, akibatnya mereka harus menanggung risiko kerusakan pada komponen vital

Penulis: Theo Rizky
Editor: Theo Rizky
Istimewa
Hankook Tire - Kinergy Eco2 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU - Curah hujan yang ekstrem di berbagai wilayah merupakan pertanda untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan berkendara, apalagi saat kendaraan anda rentan terpapar banjir atau genangan.

Namun sayangnya, tidak semua pengendara dapat mengantisipasi kejadian banjir yang tidak terduga, akibatnya mereka harus menanggung risiko kerusakan pada komponen vital kendaraan seperti ban akibat melibas banjir.

Hal ini bukan hanya mempengaruhi performa kendaraan namun juga berimbas pada kerugian biaya perbaikan yang cukup besar.

Menurut National Sales Manager PCR (Passenger Car Radial) Hankook Tire Apriyanto Yuwono, sebagai komponen penunjang kendaraan, ban perlu mendapatkan perhatian khusus pada musim hujan.

Pemilihan ban yang tepat menjadi faktor terpenting untuk melintasi berbagai kontur jalan seperti aspal, tanah, hingga bebatuan.

“Selain aquaplaning, ada risiko lain yang perlu diwaspadai. Terlebih lagi di saat kondisi angin kencang, permukaan jalan lebih licin dan tertutup air bahkan lumpur. Ban sebagai part penopang kendaraan perlu didukung dengan daya tahan yang optimal sehingga mampu untuk memecah genangan air, bekerja stabil saat hujan, dan memberikan kenyamanan berkendara,” kata Apriyanto secara tertulis kepada Tribunpekanbarutravel.com , .

Menurutnya setidaknya ada empat risiko yang patut diwaspadai pengendara agar memaksimalkan mobilitas sehari-hari di tengah musim penghujan dan potensi banjir.

Pertama ialah objek tersembunyi pada ban. Saat melintasi genangan air, pengendara sulit untuk menghindari adanya objek tersembunyi yang tajam atau cukup keras.

Misalnya objek seperti paku yang menempel di kayu, bongkahan batu, atau semen tajam serta pecahan botol dapat berisiko menembus ban. “Biasanya mengenai bagian telapak ban dapat mengakibatkan sobek di bagian samping ban (sidewall). Jika terjadi kerusakan atau sobekan yang cukup besar disarankan ban tersebut untuk segera diganti,” tambah Apriyanto.

Kedua, kerusakan casing break up (Shock CBU) juga berpotensi terjadi saat hujan dan banjir akibat ban yang terbentur dengan jalan rusak dan berlubang.

Untuk itu, penting bagi pengendara untuk menjaga kecepatan mobil dan jaga jarak aman antar kendaraan. Dinding ban yang benjol menjadi tanda kerusakan ban akibat melintasi jalan rusak dan berlubang.

Dengan berkendara tidak terlalu kencang dapat meminimalisir benturan ke jalan yang rusak serta menghindari terciptanya ombak air yang bisa membuat air masuk ke dalam mesin yang berakibat
merusak komponen elektrikal lainnya.

Ketiga, ozone crack yaitu retakan pada ban karena setelah terendam air serta lumpur, ban terpapar sinar matahari secara terus menerus tanpa dipakai berkendara.

Sinar matahari merupakan salah satu penghasil gas O3 (Ozone). Sering terjadi saat mobil disimpan di area terbuka sehingga terkena matahari. Untuk itu, penting untuk selalu mencuci kendaraan serta parkir ditempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung.

Pada dasarnya, musim hujan bukan menjadi halangan untuk mobilitas sehari-hari selama cuaca masih relatif aman untuk berkendara, khususnya di dalam kota.

Salah satu cara untuk mengantisipasi kondisi ini adalah dengan memilih ban yang sesuai demi menunjang performa kendaraan yang lebih maksimal, seperti daya cengkram yang kuat pada jalan basah serta handling yang lebih stabil.

Keempat adalah skidding atau tergelincir akibat kontrol traksi yang kurang optimal saat berpindah jalur atau bermanuver dengan mendadak.

Selain dapat diwaspadai denganmengurangi kecepatan berkendara, pengendara perlu menginjak dan melepaskan rem secara hati-hati agar roda tidak terkunci dan memastikan tekanan udara ban sesuai dengan kebutuhan.

Adapun tekanan udara pada ban yang ideal bagi kendaraan penumpang atau MPV dan LCGC yakni 30-33 psi, atau, untuk lebih detail dapat diperiksa pada stiker tekanan udara yang tertera pada masing-masing kendaraan.

Jika tekanan terlalu tinggi maka akan menimbulkan tekstur ban yang keras akibat udara yang saling berhimpitan, dan ban kehilangan daya serap terhadap getaran.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved