Kuliner di Meranti

Sempolet, Makanan Khas Kepulauan Meranti, Sedap Dinikmati Selagi Hangat

Kabupaten Kepulauan Meranti , Riau merupakan daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia dan memiliki makanan khas bernama sempolet

Editor: Theo Rizky
Istimewa
Kuliner khas Kabupaten Kepulauan Meranti, sempolet 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU - Kabupaten Kepulauan Meranti , Riau merupakan daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia .

Hal ini juga yang membuat kabupaten termuda di Riau ini memiliki sejumlah makanan khas yang diolah dari bahan sagu. Salah satunya yang khas dan cukup terkenal adalah sempolet.

Sempolet kaya akan identitas budaya Melayu Riau , walaupun makanan ini juga dapat ditemukan pada masyarakat Melayu di Riau pesisir seperti di Bengkalis maupun Siak.

Sempolet juga menjadi spesial bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti karena berbahan baku sagu yang merupakan komoditi utama asal kabupaten tersebut

Sekilas, tekstur Sempolet sangat mirip seperti sup kental juga mirip makanan khas Papua, Papeda. Jika Papeda dinikmati bersama ikan, Sempolet justru variatif.

Sempolet diibaratkan seperti cream soup berkuah pedas, namun terbuat dari sagu yang dicampur dengan sayuran pakis beserta udang, teri, siput atau daging lokan (sejenis kerang).

Perpaduan makanan ini menunjukkan pemanfaatan kearifan lokal yang optimal oleh masyarakat setempat.

Meskipun sempolet terbuat dari sagu yang mengandung protein lebih rendah daripada beras, tetapi pembuatan sempolet didukung oleh bahan-bahan yang kaya serat dan protein.

BACA JUGA :

Kasus Covid-19 di Kabupaten Siak Memuncak, Istana Siak Kembali Ditutup

Lendot Kuala Kampar, Makanan Khas Daerah Kepulauan di Pelalawan Saat Berbuka Puasa

Sayuran hijau termasuk pakis-pakisan, kangkung serta daun lainnya mengandung serat dan vitamin yang tinggi dan baik untuk pencernaan.

Udang juga mengandung kadar protein yang tinggi karena mengandung asam amino.

Hal ini menyebabkan sempolet tidak hanya mengenyangkan tetapi juga menjadi asupan protein dan serat yang bermanfaat bagi tubuh.

Sempolet dapat dinikmati selagi hangat sebelum mengental karena dingin.

Sempolet tidak bisa dipanaskan berulang-ulang karena akan mengubah rasa dan bentuknya.

Oleh karena itu, sempolet jarang dijual dan hanya dibuat di rumah pada acara-acara tertentu seperti acara tradisi, perhelatan pemerintahan di kabupaten, atau hari-hari besar lainnya.

BACA JUGA :

Rintis Usaha Kuliner Berbahan Biji Getah, Wanita di Bengkalis ini Hasilkan Omset Jutaan Rupiah

Street Food Bundaran Keris, Pusat Kuliner Seru di Kota Pekanbaru

Untuk Kepulauan Meranti masakan ini cukup banyak ditemukan di Selatpanjang salah satunya yang cukup terkenal yaitu Warung Mi Sagu Bude di jalan Rintis, Selatpanjang.

Sang pemilik adalah Jumiati atau yang akrab disapa Bude ini mengatakan bahwa ia telah memulai bisnis kuliner tersebut sejak tahun 1986 dan menu andalannya adalah mi sagu dan sempolet.

"Dulu harganya hanya Rp 10 dan awalnya hanya mi sagu, tapi karena daerah kita khas melayu kita buat lagi menu sempolet dan peminatnya masih banyak," ujar Jumiati saat ditemui di warungnya beberapa waktu lalu.

Untuk satu porsi sempolet harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, Bude menjualnya dengan harga Rp 10 ribu.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved