Kuliner di Dumai

Tak Lekang Oleh Waktu, Bolu Kemojo Masih Menjadi Favorit Masyarakat Dumai di Bulan Ramadan

Ada sejarah yang menarik di balik setiap gigitan lezat bolu kemojo, bahkan makanan masyarakat melayu Riau ini masih menjadi menu favorit saat berbuka

Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Bolu kemojo , kuliner khas Melayu Riau yang tak lekang oleh waktu. 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, DUMAI -  Bolu kemojo merupakan kuliner tradisional warisan nenek moyang yang tak lekang oleh waktu.

Ada sejarah yang menarik di balik setiap gigitan lezat bolu kemojo , bahkan makanan masyarakat melayu Riau ini masih menjadi menu favorit saat berbuka pusasa di bulan Ramadan dan berlanjut menjadi jamuan pada hari raya Idul Fitri . 

Meski hampir semua orang di Riau tahu betul seberapa populer bolu kemojo ini, namun tidak banyak yang benar-benar tahu asal muasal kue berbentuk bunga tersebut.

Bolu Kemojo yang juga sering disebut sebagai bolu kojo ini mendapatkan namanya dari kata kamboja.

Hal ini tak lain karena bentuk cetakan atau loyang yang digunakan untuk membuat bolu kemojo berbentuk seperti bunga kamboja .

Kebiasaan membuat bolu ini diturunkan dari generasi ke generasi selama berpuluh-puluh tahun untuk berbagai acara adat.

Pembuatannya pun melibatkan banyak orang secara bergotong royong, mengingat dalam berbagai acara adat, dibutuhkan bolu kemojo dalam jumlah yang sangat besar.

Fatmawati merupakan  pemilik toko Bolu Kemojo Nona di jalan Hangtuah Kota Dumai ini me‎ngatakan bahwa pad bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri , pesanan bolu kemojo sedikit meningkat, dibanding hari hari biasanya. 

BACA JUGA :

Kue Malako Kuah, Makanan Khas Masyarakat Melayu Rokan Sejak Zaman Raja-raja Terdahulu

Amparan Tatak, Kuliner Khas Banjar Tembilahan yang Lembut Manis, Sangat Digemari Untuk Buka Puasa

"Ya ada lah naiknya 40 persen dari hari biasanya, karena memang bolu kemojo ini sangat pas disajikan saat berbuka karena memang rasanya yang manis sangat enak dilidah," katanya.

Dirinya menjelaskan, bolu kemojo dibuat tanpa bahan pengawet, berbeda dengan bolu kebanyakan yang punya tekstur lembut dan seperti spons,

Bolu kemojo memiliki tekstur yang lebih padat dan tak jauh beda dengan kue basah alih-alih bolu kering. 

Menariknya lagi, tambahnya,  Bahwa bolu kemojo buatanya ini sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet buatan dalam proses pembuatannya.

"Kue ini dibuat dengan menggunakan tepung terigu, mentega, gula pasir, serta telur. Warna hijaunya pun berasal dari air daun suji yang dicampur dengan air daun pandan, bukan dengan pewarna buatan," sebutnya. 

BACA JUGA :

Bolu Kemojo, Oleh-oleh Khas Pekanbaru, Rasa Original Paling Diminati

Bolu Kemojo, Oleh-oleh Khas Pekanbaru yang Dulunya Hanya Bisa Dinikmati Saat Lebaran dan Acara Adat

Bukan hanya itu saja, tambahnya, Bolu Kemojo buatanya  dibuat dengan cara dikukus tradisional untuk menghasilkan aroma khas yang tak bisa ditemukan di tempat lain.

Diakuinya, mengingat bolu kemojo dibuat tanpa bahan pengawet buatan, maka daya tahannya memang tak begitu lama.

Jika digunakan untuk oleh-oleh, paling lama hanya bisa bertahan sekitar lima hingga tujuh hari saja dengan cara penyimpanan yang tepat.

Lebihlanjut dijelaskanya, bahwa Bolu Kemojo Nona memiliki  ciri khas terdapat lapisan crispy atau orang Melayu menyebutnya dengan Sako.

"Hal inilah yang membedakan bolu kemojo kami dengan bolu kemojo yang lainnya, jika kita memakan bolu kemojo ini terasa pecah dilidah. Untuk warna hijau bolu ini memakai pewarna alami dari daun pandan asli dan rasa manis dari gula asli tanpa pemanis buatan," ujarnya.

BACA JUGA :

Sempolet, Makanan Khas Kepulauan Meranti, Sedap Dinikmati Selagi Hangat

Bolu Dam, Kue Tradisional Khas Bengkalis yang Dulunya Hanya Dihidangkan Oleh Kalangan Mapan

"Setiap hari kita selalu produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen, paling ramai itu disaat Dumai ada event besar dan hari-hari besar keagamaan Islam Maulid Nabi, Ramdan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha," tambahnya

Fatmawati menerangkan, selain bolu kemojo crispy jadi andalan, juga menyediakan beberapa produk lainnya seperti bolu karamel, bolu kemojo durian , bingka ubi, kue talam ubi, kue ketan talam durian, kue pulut sarikaya, kue pulut serondeng, kue lapis pandan, karipap frozen dan kue si nonis.

"Harga jual bolu kemojo ini mulai dari Rp19 ribu," sebutnya

Sementara itu, seorang masyarakat Dumai, penikmat bolu kemojo bernama Kambali, mengatakan bahwa bolu kemojo‎ memiliki cita rasa tersendiri bagi penikmatnya. 

"Kalau saya, biasanya bolu kemojo ini menjadi hidangan wajib berbuka saya di bulan ramadan, karena rasanya manis dan enak di lidah," katanya.

Menurutnya, meskipun bisa dikatakan kue jadul, namun bolu kemojo ini masih sangat banyak peminatnya di Kota Dumai , hal tersebut terbukti di saat ada event besar dan hari-hari besar keagamaan Islam Maulid Nabi, Ramadan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha,‎ Bolu Ini selalu menjadi hidangan utama. 

"Karena rasa dan bahan nya alami, bolu kemojo yang kental dengan nuansa Melayu masih jadi menu favorit masyarakat Dumai," tambahnya.

Sedapnya Ketupat Serundeng, Kuliner Khas Masyarakat Bengkalis Saat Lebaran

Rintis Usaha Kuliner Berbahan Biji Getah, Wanita di Bengkalis ini Hasilkan Omset Jutaan Rupiah

Galopuong Ondam, Kuliner Khas Kampar Bercita Rasa Manis dan Gurih

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved