Dampak Virus Corona di Riau

Aprindo Tolak Penutupan Ritel di Pekanbaru Jelang Lebaran

Dari maret tahun 2020 lalu sampai Pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Mikro dan Kota sebenarnya peritel sudah terpuruk

Editor: Theo Rizky
Istimewa
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N Mandey. 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU - Terkait adanya kebijakan beberapa pemerintah daerah yang melarang operasional tempat wisata, hiburan dan pusat perbelanjaan atau mal pada libur lebaran dari tanggal 11 hingga 16 Mei 2021 ini, memunculkan ketidakpastian di kalangan peritel dan UMKM khususnya yang berada di mal.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N Mandey mengatakan, edaran tersebut dikeluarkan terkesan mendadak.

Padahal rata-rata pelaku usaha sudah berinvestasi dengan menambah stok untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang hendak berbelanja. 

Oleh karena itu, pihaknya meminta tidak ada kebijakan penutupan pusat perbelanjaan atau mall pada saat libur lebaran tahun ini. 

"Kami mengkritisi sejumlah pemerintah daerah seperti Kota Pekanbaru dan Kota Banjarbaru yang menerapkan penutupan mal secara tiba-tiba di masa libur Lebaran. Kami yang sudah investasi dengan stocking barang, tentunya ini akan berdampak pada penumpukan barang di toko jika diharuskan tutup," kata Mandey melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (8/5/2021).

Dikatakannya, dari bulan maret tahun 2020 lalu sampai pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM ) berbasis mikro dan kota sebenarnya peritel sudah terpuruk. 

BACA JUGA :

Tenaga Kesehatan Senang Bisa Manfaatkan Promo Menginap Rp 10 Ribu di Hotel Dafam

Sempat Ditiadakan, Kini Festival Lampu Colok Digelar Lagi, Ini Sejarah Tradisi Lampu Colok Bengkalis

"Momen hari raya Lebaran inilah yang menjadi harapan kami bisa meningkatkan penjualan setelah selama satu tahun terakhir penjualan ritel menurun secara drastis," katanya.

Padahal, dikatakannya, indeks kepercayaan konsumen sudah mulai meningkat. Pemerintah daerah menurut dia harus mengeluarkan kebijakan yang ikut mendukung kondisi saat ini.

"Misalnya dengan memberikan bantuan sosial untuk masyarakat ekonomi lemah. Sehingga daya belinya dapat meningkat. Bukan justru melakukan penutupan," ulasnya.

Ia berharap pemerintah dapat bijak dan ambil bagian untuk mengangkat sektor ritel yang sudah terpuruk dengan cara memberi ijin pusat perbelanjaan atau mal tetap operasional agar bisa melayani kebutuhan masyarakat. Tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

"Kami dari retail tidak bisa memanfaatkan atau festive season, seperti tahun-tahun sebelumnya. Kami mengharapkan pemerintah  tidak mengeluarkan kebijakan yang mempersulit kondisi pelaku usaha," ujarnya.

Seperti diketahui, beberapa peritel yang terdampak langsung penerapan PPKM, seperti supermarket, hypermarket dan department store, bisa kehilangan pendapatan hingga 90 persen karena gerai yang berada di mal harus tutup. Sementara lini usaha retail modern yang menjual kebutuhan sehari-hari juga terdampak dengan potensi kehilangan sebesar 50 persen.

Bertambah Empat Orang, Total Ada Lima Warga India Positif Covid-19 Masuk ke Riau

Gubri Syamsuar Minta Semua OPD Kandangkan Seluruh Mobil Dinasnya, Jangan Sampai Dibawa Mudik

Tempat Wisata di Riau yang Berada di Zona Merah dan Oranye Ditutup Selama Libur Lebaran

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved