Hari Lebah Sedunia 2021: Selamatkan Dunia Perlebahan Indonesia

Pemanfaatan dan eksploitasi terhadap jenis lebah tertentu ternyata kadang menimbulkan beberapa permasalahan baru.

Editor: Theo Rizky
Istimewa
Pohon Sialang di Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau 

Hari Lebah Sedunia 2021 : Selamatkan Dunia Perlebahan Indonesia

Oleh : Avry Pribadi (Entomology The University of Georgia, US , Peneliti perlebahan pada Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)

Lebah telah lama digunakan untuk pemenuhan akan produk berupa madu dan sebagai pollinator.

Akan tetapi, pemanfaatan dan eksploitasi terhadap jenis lebah tertentu terkadang menimbulkan beberapa permasalahan baru.

Jenis lebah yang paling banyak dimanfaatkan adalah Apis mellifera atau masyarakat sering menyebutnya sebagai lebah eropa atau Australia.

Menurut beberapa teori evolusi, lebah Apis mellifera sebenarnya berasal dari Afrika tengah yang kemudian menyebar dan beradaptasi dengan baik di wilayah Eropa.

Jenis ini kemudian menyebar keseluruh dunia termasuk Amerika dan Australia sewaktu periode kolonialisisasi terjadi dan sejak itu telah banyak usaha pemulian untuk mencari bibit unggul juga dimulai sehingga jenis ini merupakan yang paling banyak digunakan oleh para peternak lebah di dunia.

Akan tetapi, dibalik kesuksesan menjadi jenis yang paling popular di dunia, lebah Apis mellifera sebenarnya menyimpan masalah besar, yaitu menjadi invasive species bagi jenis-jenis lebah lokal.

Avry Pribadi (Entomology The University of Georgia, US , Peneliti perlebahan pada Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)
Avry Pribadi (Entomology The University of Georgia, US , Peneliti perlebahan pada Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) (Istimewa)

Sebuah penelitian yang disajikan dalam jurnal Scientific reports tahun 2019 menyebutkan bahwa keberadaan Apis mellifera memberikan dampak buruk bagi keberadaan beberapa jenis lebah lokal dan interaksi antara tanaman dan lebah lokal yang telah lama terbentuk.

Populasi lebah lokal akan semakin terdesak dan menurunkan tingkat keberhasilan penyerbukan pada tanaman lokal.

Sedangkan pada sebuah studi di Jurnal Ecoscience tahun 2005 bahkan menyarankan untuk tidak mengintroduksikan jenis Apis mellifera kesuatu wilayah yang telah dihuni oleh kelompok lebah lokal.

Suatu studi di Timur Tengah yang diterbitkan oleh jurnal Plant Sciences tahun 2013 menyebutkan bahwa keberadaan Apis mellifera mempengaruhi kemampuan lebah lokal untuk berkompetisi dalam mengumpulkan pakan.

Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sendiri, jenis Apis mellifera masuk kira-kira tahun 1841 yang dibawa oleh orang Belanda.

Namun setelah era kemerdekaan, jenis ini kembali didatangkan pertama kali pada tahun 1972 oleh Apriari Pramuka.

Kemudian, dalam kisaran tahun 1974 s.d 1985 terjadi import Apis mellifera asal Australia secara besar-besaran terutama oleh para peternak besar di pulau Jawa.

Keberadaan jenis lebah Apis mellifera ke Indonesia dapat dinilai sebagai hal yang positif namun juga dapat berdampak negatif.

Tujuan didatangkan jenis Apis mellifera adalah untuk meningkatkan produksi madu di Indonesia yang masih rendah meskipun Indonesia memiliki potensi pakan yang melimpah.

Workshop konservasi pohon sialang di Kabupaten Pelalawan Riau
Workshop konservasi pohon sialang di Kabupaten Pelalawan Riau (Istimewa)

Apis mellifera dipilih karena lebah ini memiliki produktivitas madu yang tinggi dan tidak agresif sehingga mudah untuk diternakkan.

Hal inilah yang menyebabkan kebijakan import Apis mellifera menimbulkan pro dan kontra di masa itu.

Bagi pihak-pihak yang tidak setuju beralasan bahwa seharusnya Indonesia justru mengembangkan potensi lebah lokal yang telah ada.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved