Destinasi Wisata di Kampar

Melihat Kampung Patin di Desa Koto Mesjid Kampar, Tiap Rumah Ada Kolam Ikan

Warga setempat menyebutnya dengan Kampung Patin , pasalnya 85 persen warga Desa Koto Mesjid, Kampar memelihara patin.

Penulis: Theo Rizky
Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Warga Desa Koto Mesjid Kampar atau Kampung Patin tengah memanen ikan patin 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, KAMPAR - Desa Koto Mesjid di Kecamatan XIII Koto Kampar memiliki sejumlah destinasi wisata unggulan. Seperti Puncak Kompe dan Danau Mahligai yang cukup viral di media sosial.

Kedua lokasi ini menyuguhkan lanskap danau buatan PLTA dengan gugusan pulau kecil hijau yang menghiasi danau itu.

Karena itu, kawasan tersebut kerap disebut sebagai Raja Ampat nya Kabupaten Kampar , Provinsi Riau .

Namun bukan hanya itu, destinasi menarik lainnya adalah Kampung Patin, sebelumnya memang tidak ada yang menyangka, daerah relokasi Danau Buatan Koto Panjang, Kampar Riau ini bertransformasi menjadi sentra ikan patin.

Warga setempat menyebutnya dengan Kampung Patin , pasalnya 85 persen warga Desa Koto Mesjid, Kampar memelihara patin.

Disampaikan warga Desa Koto Mesjid, Nelda beberapa waktu lalu, bergelut dengan ikan patin sudah menjadi keseharian warga di sana.

Nelda sudah terlatih membelah ikan patin segar. Tangan kanannya memegang erat sepotong kayu kecil untuk pemukul. Tangan kiri memegang pisau kecil namun tajam.

Dengan sekali pukul, kepala Patin langsung terbelah. Ikan selanjutnya dibelah oleh pekerja lain. Isi perut dicuci dibuang, disusun dan siap diasapi. Setiap hari sekitar satu ton patin segar bisa dibersihkan untuk diasapi.

BACA JUGA :

Green Canyon Kampar Riau, Objek Wisata Populer yang Memanjakan Pecinta Traveling

Destinasi Wisata Batu Tilam Kampar Raih Juara 1 Surga Tersembunyi Terpopuler API Award 2020

Aktivitas yang dilakukan Nelda hanya sebagian kecil rutinitas warga Koto Mesjid. Bergelut dengan patin sudah menjadi kebiasaan warga, Mulai dari pembibitan, panen hingga pengelolaan hasil produksi bisa ditemukan ditempat ini.

Ikan Patin merupakan komoditas ekonomi yang telah menjadi penggerak desa. Setiap hari dipanen berton-ton patin segar. Ikan berasal dari 1200 lebih kolam ikan warga .

Kolam-kolam itu seolah-olah menjadi kewajiban yang harus ada di setiap rumah. Memiliki slogan tiada rumah tanpa kolam ikan, hampir setiap kepala keluarga di desa menjadikan kolam ikan sebagai sumber mata pencarian utama.

Kebun karet yang selama ini mereka miliki, justru menjadi mata pencarian sampingan. Padahal saat direlokasi, karet merupakan mata pencarian utama.

Seorang warga lainnya, Firman Edy menyebut bahwa sejak ia memelihara ikan patin , perekonomian masyarakat terus mengalami peningkatan.

BACA JUGA :

Viral Video 3 Siswa SD Bergelantungan Seberangi Sungai ke Sekolah, Ternyata di Kampar, Ini Faktanya

Galopuong Ondam, Kuliner Khas Kampar yang Kerap Muncul Saat Bulan Puasa

"Banyak multiplier effect yang terjadi termasuk perbaikan infrastruktur oleh pemerintah. Sekarang masyarakat sini pun malu rasanya kalau tidak sekolah sampai sarjana," katanya.

Transformasi Desa Koto Mesjid menjadi Kampung Patin, mulai terlihat sejak 2008 lalu.

Desa yang pintu gerbangnya terletak dipinggir jalan lintas menuju Sumatera Barat ini sebelumnya sudah mulai membudidayakan ikan. Namun keterbatasan dana dan informasi, pola peternakan masih dilakukan secara tradisional.

Seiring waktu ilmu budidaya ikan patin mulai berkembang di kawasan itu, mulai dari pembenihan dan pembesaran ikan, pabrik pakan ikan, sentra pengolahan ikan asap atau salai hingga produk turunannya dikerjakan semua di Kampung Patin sehingga memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

BACA JUGA :

Masjid Jami Air Tiris, Masjid Tertua di Kampar yang Punya Cerita Magis

Berwisata ke Hutan Adat Imbo Putui Kampar, Menikmati Sejuknya Mandi di Sungai Emas

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved