Kisah Petani Sukses di Riau, Raup Untung Puluhan Juta per Bulan dari Bertanam Sayur

Herman yang kini telah menjadi petani sukses ini pernah merasakan bagaimana hidup dengan serba sulit.

Editor: Theo Rizky
Istimewa
Petani sukses asal Perawang, Herman (kiri) saat panen di ladang miliknya, Rabu (14/7/2021). 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU - Datang jauh dari Medan merantau ke Provinsi Riau membuat Herman harus berjuang untuk hidup, karena penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari untuk keluarga.

Namun siapa sangka, selang beberapa tahun, kini ia menjadi petani sukses, dengan penghasilan Rp 45 juta hingga Rp 60 juta perbulan. Ia kini juga membantu memodali petani yang ada di sekitarnya.

Sebelum mencapai kesuksesan saat ini, Herman merasakan bagaimana hidup dengan serba sulit.

Awal ia sampai di Kota Pekanbaru , ia bekerja dengan orang lain, dengan upah yang cukup rendah. Bahkan istrinya sempat putus asa dan mengajak balik ke kapung asal, Medan.

Namun Herman yang sudah punya tekad kuat merantau, tetap gigih dengan perjuangannya. Ia kemudian mengajak istrinya untuk bertani di daerah Perawang, Kabupaten Siak.

"Tahun 2013 kami pindah ke Kampung Suka Jaya. Di situ kami buat gubuk, dalam gubuk kami tidur, sekaligus juga masak di sana," kata Herman kepada Tribun, Rabu (14/7/2021).

Herman mencoba bertanam sejumlah komoditas sayur, seperti bayam, kangkung, pare, kacang panjang, cabai dan banyak lagi komoditas lainnya.

Kegigihannya membuahkan hasil, hingga Herman bisa membeli lahan sedikit demi sedikit, dan terus bertambah. 

Keuntungan yang diperolehnya pun juga terus bertambah, berkisar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta dalam satu bulan ketika itu. Hingga terus meningkat dan lahan yang dibelinya pun terus bertambah, sampai 3 hektare yang ia miliki.

Saat membuka lahan di sana, diakui Herman, ia masih memakai cara lama, yakni dengan membakar lahan, karena pada waktu itu belum ada larangan membakar hutan.

Namun munculnya asap yang makin parah membuatnya sadar bahwa itu sangat merugikan semua pihak, termasuk para petani.

"Kami jadi sadar, bahwa itu sangat merugikan. Bunga tanaman ikut mati karena asap, anak-anak berhenti sekolah, kesehatan terganggu, dan banyak kerugian lainnya," kata Herman .

Ia pun mendapat tawaran bermitra dengan PT Arara Abadi (AA) dan Asia Pulp and Paper (APP) dan diarahkan tidak lagi membuka lahan dengan membakar.

"Kami baru sadar membakar lahan itu hanya akan memperburuk kondisi tanah dan menimbulkan masalah kepada orang lain," katanya lagi.

Dikatakan Herman, dari Program Kemitraan Desa Makmur Peduli Api (DMPA) dengan cara membersihkan lahan dengan tidak membakar, tapi dengan cara yang lebih bersih dan aman dengan pengelolaan lahan untuk tanaman jangka pendek, yang lebih dikenal dengan istilah agroforestry. 

Tema agroforestry ini pekan lalu juga menjadi bahan webinar di Universitas Muhammadiyah Riau, yang menghadirkan langsung Herman selaku petani yang telah sukses dengan penerapan sistem agroforestry tersebut. 

Dr Mubarak, MSi selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Riau yang juga menjadi pembicara dalam kesempatan itu menyampaikan, apa yang dilakukan oleh Herman merupakan sikap yang patut dijadikan teladan bagi semua pihak.

"Awalnya saya sempat kepikiran, bagaiama bisa menghasilkan sampai Rp 45 juta hingga Rp 60 juta per bulan dengan 3 hektare lahan, setelah dijelaskan Pak Herman tadi, baru saya paham, dan hitung-hitungnya secara ekonomi masuk, ini sangat luar biasa. Kita sudah rencanakan untuk datang langsung meninjau ke sana nanti," tuturnya

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved