Wawancara Khusus dengan IHGMA Riau, Sektor Perhotelan Kembali Terseok-seok

Masih tertatih di awal tahun, lonjakan kasus Covid-19 dan PPKM Level 4 membuat usaha perhotelan semakin tiarap.

Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Riau Lusiyanti SE, MM, CHM 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU -  Bisnis hotel di Provinsi Riau sempoyongan terhempas pandemi Covid-19 .

Masih tertatih di awal tahun, lonjakan kasus Covid-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4, pada 26 Juli - 2 Agustus 2021 membuat usaha perhotelan semakin tiarap.

Di Riau bahkan sejumlah hotel sudah tidak beroperasi lagi dan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan tidak bisa dihindari lagi.

Tak hanya terjadi penurunan okupansi, tekanan juga datang dari average room rate atau rata-rata nilai harga kamar yang merosot tajam.

Artinya, pendapatan (revenue) pelaku usaha anjlok sangat dalam.

Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Riau Lusiyanti SE, MM, CHM, berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi kondisi tersebut.

Misalnya dengan memberikan insentif, keringanan pajak, PBB, dan pajak-pajak lain yang harus dibayar seperti pajak air tanah, genset, termasuk dana stimulus bagi para pegawai hotel.

Lusiyanti juga meminta pemerintah memfasilitasi pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di lingkungan hotel. 

Berikut wawancara ekslusif Tribun Pekanbaru (T) dengan Lusiyanti (L), yang juga bisa disimak di kanal YouTube Tribun Pekanbaru Official.

T : Bagaimana kondisi perhotelan di Riau ditengah pandemi dan penerapan PPKM level 4 saat ini?

L : Perhotelan sangat luar biasa terdampak, tapi kita harus tetap bersyukur karena kalau dibandingkan di Bali dan juga daerah Jawa, sampai ada kibaran bendera putih dari kawan-kawan disana, karena penerapan PPKM level 4.

T : Seperti apa gambaran okupansi perhotelan sejauh ini secara umum?

L : Pada awal 2021 triwulan pertama, kita punya harapan, okupansi mulai merangkak naik walau tak seperti tahun 2019. Kemudian ada kasus baru varian delta, anjlok lagi okupansi, tambah lagi pemerintah melakukan penerapan level 4. Namun sekali lagi, kita tetap masih bersyukur, karena masih belum seperti kondisi di Jakarta.

T : Bagaiamana tanggapan IHGMA Riau terkait kebijakan pemerintah dalam penerapan PPKM level 4?

L : Kita tidak menyalahkan pemerintah. Kita sadar pemerintah seperti makan buah simalakama, antara mempertahankan bisnis atau berupaya menekan angka penularan Covid-19, karena keduanya sama-sama berdampak besar bagi masyarakat. Kalau kita lihat di negara lain, dua minggu lalu kita sempat dapat informasi bahwa di Belanda sudah aman, sampai tidak pakai masker lagi, kemudian seminggu yang lalu, kita dapat informasi lagi kalau di sana red zone lagi. Artinya ini bukan main-main, dan pemerintah memang harus lebih waspada.

T : Untuk saat ini seperti apa okupansi hotel rata-rata di Riau?

L : Penerapan PPKM level 4 saat ini tingkat junian kamar maksimal hanya 50 persen. Tapi kita tetap berusaha bertahan. Di grup WA kawan-kawan mulai mengeluh, apalagi yang harus kita lakukan untuk menghadapi kondisi ini.

T : Apa dampak yang paling dahsyat yang harus diterima sektor perhotelan saat ini?

L : Ada beberapa hotel yang tutup akhirnya. Pada awalnya tutup sementara. Ada juga yang sudah menjadi kos-kosan, yang tutup itu pasti PHK karyawannya. Karena owener tidak mampu lagi membayar gaji karyawan. Di hotel tempat saya bekerja bahkan hampir 50 persen terjadi pengurangan karyawan, karena tidak mungkin kita pertahankan 100 persen.

T : Apa yang dilakukan pihak hotel dalam menyikapi kondisi ini?

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved