Bisnis Sambil Selamatkan Lingkungan, 3 Pemuda Ini Bikin Usaha Minyak Jelantah Beromset Ratusan Juta

Usia mereka masih sangat muda, namun siapa sangka bisnis yang digeluti tiga pemuda asal Pekanbaru ini beromset ratusan juta rupiah

Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Tiga pengusaha minyak jelantah asal Pekanbaru yang mendirikan CV Arah Baru Sejahtera 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU - Usia mereka masih sangat muda, namun siapa sangka bisnis yang digeluti tiga pemuda asal Kota Pekanbaru ini bukan main-main.

Setiap bulan, mereka mengekspor puluhan ton minyak jelantah ke berbagai negara untuk diolah menjadi biodiesel. Saat ini omset dari usaha tersebut sudah mencapai ratusan juta rupiah perbulannya. 

Muhammad Rizky Ramadhan, Ahmad Khairu Ramadhan dan Niprianto merupakan anak-anak milenial yang baru saja menamatkan pendidikan S1 mereka pada tahun 2018 lalu.

Ketiganya merupakan tiga sekawan yang dulunya bersama mondok di Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru.

Setelah tamat, mereka berpencar melanjutkan ke tingkat SMA, dan kuliah di kampus yang berbeda, namun masih di Pekanbaru. 

Tahun 2018 lalu, para bujangan yang sama-sama kelahiran 1996 itu kemudian sepakat reunian di dekat mereka mondok dulunya, yang lokasinya berada di belakang ex Giant Panam .

Ketiganya sama-sama galau, bingung mau apa setelah tamat. Hingga mereka mendapatkan ide bisnis, kemudian membuat CV Arah Baru Sejahtera. 

"Awalnya kami reunian duduk sambil ngopi. Kami bingung mau ngapain setelah tamat. Kemudian kami sepakat buat bisnis bertiga. Tapi bisnis apa? Kalau bisa bisnis sambil menyelamatkan lingkungan. Kami kemudian searching google, lalu ada kami dapat pengolahan minyak jelantah di luar negeri, yaitu di Singapura kami lihat saat itu. Lalu kami pelajari lebih lanjut, sampai kami dapat kontak salah satu buyer dari luar negeri, lalu kami berkomunikasi," kata M Rizky Ramadhan selaku Pimpinan CV Arah Baru Sejahtera, Senin (30/8/2021).

Dikatakan alumni Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning ini, mereka bertiga memang cukup resah dengan kondisi lingkungan, terutama di Pekanbaru saat ini. Salah satunya adanya situasi banjir ketika hujan.

"Hujan tidak hanya disebabkan sampah saja. Tanpa kita sadari, limbah jelantah dari usaha, rumah tangga dan lainnya yang dibuang ke parit atau pembuangan, itu akan menjadi gumpalan, yang akan menyumbat aliran air," katanya.

Perusahaan minyak jelantah mereka merupakan satu-satunya di Riau yang perusahaan lokal. Kalau pun ada yang lain di Riau, itu merupakan kompetitor yang datang dari luar Riau.

Rizky juga menambahkan, saat awal merintis usaha dulunya, mereka bertiga mendatangi rumah-rumah warga, tempat usaha dan lainnya.

Selama setahun mereka merintis, hingga akhirnya buyer yang membeli minyak mereka kemudian ingin berinvestasi, sehingga mereka bisa mengembangkan usaha.

"Kami dulu awalnya datang ke rumah-rumah warga, tempat orang jualan gorengan dan lainnya. Banyak kisah yang kami lalui saat itu. Bahkan ada juga yang sampai melarikan uang kami, ada juga yang mencampur minyak ikan, minyak kelapa. Sementara yang kami kumpulkan ini kan khusus minyak sawit," tambahnya.

Mereka membeli minyak dari masyarakat sekitar Rp 7.000 perkilogramnya. Namun kalau untuk supplier atau agen yang lebih banyak mengumpulkan minyak, maka akan disesuaikan dengan harga terupdate, yang tentunya akan lebih tinggi.

Sementara itu, Ahmad Khairu Ramadhan yang membidangi masalah finance perusahaan tersebut mengatakan, setidaknya ada sekitar minimal 45 ton yang mereka ekspor ke luar negeri.

"Kalau ekspornya ada ke sejumlah negara, ada Amsterdam, Singapura dan lainnya. Sebelum ekspor, kita juga lakukan uji laboratorium bekerjasama dengan Politeknik Kampar," katanya.

Niprianto yang merupakan alumni Perpajakan Universitas Riau mengatakan, saat ini mereka sudah punya sejumlah karyawan dan juga cukup banyak supplier yang mencarikan minyak jelantah, yang dikirim setiap harinya ke gudang mereka yang berlokasi di Golden City, Ruko dan Pergudangan, Jalan Air Hitam Pekanbaru. 

"Pada umumnya yang bergabung bersama kami adalah anak-anak muda dan anak-anak milenial. Semoga ini menjadi keberkahan dan rezeki banyak masyarakat kedepannya, sekaligus penyelamatan lingkungan," tuturnya.

Pembayaran Parkir Tepi Jalan di Pekanbaru Akan Dilakukan Secara Non Tunai, Ini Tanggapan Juru Parkir

Satu Pekan PPKM Level 4, Kasus Covid-19 di Kota Pekanbaru Alami Penurunan

Tim Gabungan Tangkap Penjerat dan Penjual Kulit Harimau Sumatera di Kuansing

Mau Gratis Biaya Bikin Paspor? Penuhi Dulu Tantangan Dari Kantor Imigrasi Pekanbaru Berikut Ini

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved