BBKSDA Riau

Kematian Remaja Diduga Diterkam Harimau di Siak Masih Misteri, Ternyata Korban Pergi Tak Sendirian

Menelusuri jejak bercak darah itu, akhirnya warga menemukan jasad yang tidak utuh. Lokasi jasad yang tergeletak tidaklah jauh dari camp tempat tinggal

Editor: Theo Rizky
Istimewa
Video yang memperlihatkan seekor Harimau Sumatera memangsa ayam peliharaan warga beredar viral di pesan WhatsApp. Diketahui video tersebut diambil di kawasan perkebunan PT Triomas yang berlokasi di Kampung Teluk Lanus Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, SIAK - Peristiwa remaja diduga diterkam Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) di Sungai Belat, Desa Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak , Riau masih menjadi pembicaraan warga hingga Selasa (31/8/2021). Warga merasa terjadi kejanggalan pada peristiwa mencekam tersebut. 

Hasil wawancara Tribunpekanbaru.com dengan karyawan PT Uniseraya yang tinggal bersama keluarga korban di lokasi kejadian mengatakan bahwa korban sebelum tewas pergi jembatan pelabuhan Sungai Belat bukan sendirian.

Ada beberapa orang menuju jembatan pelabuhan sore itu untuk mencari jaringan internet.

“Di Sungai Belat ini kami tinggal hanya sekitar 17 orang. Signal HP bisa didapat hanya di jembatan. Sudah menjadi kebiasaan warga untuk pergi ke jembatan mencari signal HP. Si korban ini sebelum diketahui meninggal dunia pergi ke jembatan itu bersama beberapa orang,” kata Ridwansyah alias Dedek (29), karyawan PT Uniseraya tersebut. 

Korban tersebut pergi ke jembatan sekitar pukul 18.00 WIB sebelum magrib. Setelah gelap menyelimuti bumi, orang-orang yang mencari jaringan internet di jembatan pelabuhan itu pun pulang ke camp masing-masing. Si korban diketahui tidak ikut pulang.

“Bapak korban Rustam bertanya kepada warga yang pulang dari jembatan, di mana anak saya. Beberapa  orang menjawab bahwa sebelumnya anak Rustam ada di belakang mereka,” kata dia.

Tidak puas dengan jawaban itu, Rustam pun menyusul ke jembatan itu. Sesampainya di lokasi, betapa terkejutnya Rustam bahwa yang ditemukan adalah Ponsel miliknya anaknya, serta bercak darah yang cukup banyak. 

“Rustam pun berlari ke camp tempat kami tinggal sambil berteriak minta tolong. Lalu kami mengambil senjata di rumah masing-masing, seperti parang dan pisau lalu mencari korban bersama Rustam,” kata dia.

Menelusuri jejak bercak darah itu, akhirnya warga menemukan jasad yang tidak utuh. Lokasi jasad yang tergeletak tidaklah jauh dari camp tempat tinggal.

“Hanya sekitar 50 meterlah dari camp atau pondok kami tinggal. Memang tidak seorang pun yang mendengar adanya auman harimau atau teriakan minta tolong dari si korban saat itu,” kata Dedek. 

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, kenapa tidak terdengar suara teriakan korban jika memang dimangsa harimau sumatra? Dedek menjawab saat itu lampu mati dan brisik suara mesin genset yang sedang diperbaiki lebih kuat.

“Mungkin tertimpa suara mesin genset yang berisik,” kata dia.

Dedek juga mengatakan, di lokasi juga terdapat genangan darah segar. Sedangkan bagian tubuh korban yang hilang hanya dua bagian penting, yakni pada kepala dan kemaluan. 

“Semua warga yang tinggal di tempat kami menduga itu dimangsa harimau. Karena itu kami semua trauma untuk tinggal di sana. Sementara waktu kami pulang ke desa Teluk Lanus dari camp itu,” kata dia.

Menurut Dedek, Sungai Belat merupakan kawasan hutan lebat yang dipercaya sebagai habitat Harimau Sumatera . Di lokasi itu ada perkebunan kelapa sawit milik PT Uniseraya. Dari permukiman warga ke Sungai Belat itu berjarak sekitar 17 Km, namun tidak ada akses darat karena dikurung rimba alam yang lebat. Pohon akasia liar juga tumbuh di sana. Anak-anak sungai rawa gambut yang bermuara ke laut juga banyak, rata-rata ada buayanya. 

“Dari camp tempat kami tinggal ke perkampungan harus menggunakan pompong atau sampan mesin. Perjalanan kami dari camp ke perkampungan atau sebaliknya sekitar 1,5-2 jam lamanya,” kata dia.

Sementara itu, informasi yang dihimpun Tribunpekanbaru.com, peristiwa kematian remaja 13 tahun Malta Alfarel Nduru tersebut meninggalkan banyak spekulasi di tengah masyarakat. Kejanggalan yang dirasakan masyarakat selain tidak ditemukan jejak harimau, juga luka sayatan di tubuh korban terbilang rapi. 

Sayangnya, korban tidak diotopsi karena pihak keluarga memutuskan untuk dibawa ke kampung halamannya, yakni kabupaten Nias, Provinsi Sumatra Utara.

Selain itu, bagian tubuh korban yang hilang adalah bagian kepala dan kemaluan. Masyarkat berpendapat, biasanya harimau memakan setelah mangsanya mati, sehingga tidak banyak genangan darah yang keluar. Bagian yang dimakan terlebih dahulu biasanya juga bagian tubuh mangsa yang lunak, seperti perut dan paha. 

Camat Sungai Apit, Wahyudi mengatakan, pihak kepolisian masih menyelidiki peristiwa tersebut. Beberapa orang sudah diperiksa kepolisian sebagai saksi. Pihak Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) juga sudah turun ke lokasi menelusuri binatang buas tersebut. 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved