Dibangun dengan Anggaran Rp 1,2M, Dermaga Pariwista Kampung Tengah Siak Kerap Dijadikan Lokasi Mojok

Sejumlah bangunan yang menelan biaya miliaran rupiah itu terkesan hanya menjadi monumen yang ditinggalkan.

Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Jembatan dermaga pariwisata Siak di Kampung Tengah digenangi air, Kamis (2/9/2021). 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU - Kota Siak Sri Indrapura terasa sepi menyusul meredupnya event kepariwisataan daerah itu.

Sejumlah bangunan yang menelan biaya miliaran rupiah terkesan hanya menjadi monumen yang ditinggalkan.

Tribunpekanbaru.com menelusuri sebuah pembanguan dermaga di Kampung Adat , Kampung Tengah, Kecamatan Mempura , Kamis (2/9/2021).

Bangunan dermaga ini hanya seperti onggokan besi berkarat yang tidak memberikan kesan kepariwisataan. 

Dermaga di pinggiran Sungai Siak ini berhadap-hadapan dengan Pelabuhan Sungai Siak di sisi Kecamatan Siak .

Dermaga ini dibangun oleh Dinas Pariwisata pada 2018 lalu untuk melayani wisatawan di jalur sungai Siak.

Jauh sebelum pandemi Covid 19 menyerang, dermaga ini juga tidak pernah difungsikan. 

“Buat apa membangun sampai Rp 1,2 miliar jika tidak difungsikan. Apalagi dibiarkan begitu saja, tentu terjadi penyusutan nilai aset,” ujar Gatot Siswondo, tokoh muda Kabupaten Siak .

Meski anggaran pembangunannya menelan biaya Rp 1,2 miliar, namun banguan dermaga ini tampak sederhana. Akses dari jalan raya Kampung Tengah menuju trestel dermaga hanyalah jalan tanah yang muat untuk satu mobil. Jalan tanah tersebut mulai mengecil akibat dijalari rumput liar dan semak belukar. 

BACA JUGA :

Mimbar Masjid Syahabuddin Siak Ini Berusia Sekitar Tiga Abad, Masih Digunakan dan Kokoh Hingga Kini

Bangkitkan Nasionalisme, Pria Ini Kibarkan Bendera di Busur Pelengkung Jembatan Tertinggi di Siak

“Pembangunan menggunakan uang negara yang tidak fungsional harus diusut, karena ada potensi korupsi pada proyek itu. Tentu saja kelihaian aparat penegak hukum sangat diharapkan dalam melihat persoalan seperti itu,” tambah Gatot.

Jembatan menuju ruang tunggu dermaga amat licin. Air menggenang memenuhi badan trestel itu. Selain ditumbuhi lumut, sampah plastik bekas kemasan minuman dan makanan, tisu bekas ada yang terlihat sudah lama dan ada juga yang tampak masih baru, daun-daun kering dan lain-lain. Besi -besi pagar tampak berkarat. 

Pada bangunan dermaga pariwisata ini, sejumlah pasangan remaja tampak nyaman duduk di sana. Saat Tribunpekanbaru.com datang, sebagian mereka langsung pergi.

Tampaknya, bangunan dermaga ini kerap menjadi tempat yang disenangi pasangan ramaja yang memadu kasih.

Maklum saja, lokasinya jauh dari permukiman dan dikepung semak belukar.

Di bagian depan, pemandangan luas sungai Siak membentang. Suasananya sangat menjual, apalagi bagi pasangan muda-mudi, dari anak-anak bujang tanggung yang membawa teman perempuan untuk sekadar duduk-duduk di sana.

“Dibilang sering tidak, tapi adalah sekali-sekali kami datang ke sini. Karena pemandangannya bagus dan terasa angin sepoi-sepoinya,” ujar Rina, seorang wanita muda sekitar 16 tahun yang berkunjung ke sana dengan seorang teman laki-lakinya. 

Rina, mengaku dermaga itu adalah tempat favoritnya. Dari dermaga itu, ia juga suka membuat konten untuk media sosialnya.

Duduk di sana bersama teman laki-lakinya membuatnya sangat nyaman. Bebas dari gangguan.

Kapal-kapal tongkang mengangkut kayu akasia tampak beringsut dari kejauhan, menjadi pemandangan yang menakjubkan. 

Halaman selanjutnya

BACA JUGA :

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved