Memprihatinkan, Bangunan Pariwisata di Bawah Jembatan TASL Siak Senilai Rp 2,2 M Tidak Berfungsi

Pada kawasan ini juga terdapat bangunan gazebo dan sebuah panggung terbuka yang berlatar belakang Jembatan TASL . 

Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Suasana panggung terbuka di bawah jembatan TASL Siak yang hingga kini belum difungsikan 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, SIAK - Sebanyak enam unit bangunan pariwisata di bawah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah (TASL), di kelurahan Kampung Rempak, Kecamatan Siak tidak berfungsi.

Padahal pembangunan tersebut menelan biaya Rp 2,2 miliar lebih pada tahun 2019 lalu. 

Kawasan ini tepat berada di depan kompleks Islamic Center dan berdampingan dengan Taman Tengku Agung .

Akses masuk ke kawasan ini dari depan kompleks Islamic Center Siak. Pada bagian depan itu, terdapat gapura minimalis dan bangunan permanen di sebelah kanan.

Di bagian dalam juga terdapat 10 pintu toko, yang sedianya diperuntukkan untuk kios kuliner dan pedagang pernak pernik.

Pada kawasan ini juga terdapat bangunan gazebo dan sebuah panggung terbuka yang berlatar belakang Jembatan TASL

Bangunan-bangunan tersebut merupakan proyek Dinas Pariwisata Siak pada 2019 lalu. Nilainya mencapai Rp 2,2 miliar lebih. Hingga saat ini belum ada peresmian dan pemanfaatannya. 

Tribunpekanbaru.com menelusuri onggokan bagunan itu pada Sabtu (4/9/2021) petang. Bangunan terlihat megah namun sudah rusak, kumuh dan sebagian kaca pecah serta dinding yang kusam. 

“Setelah dibangun dengan anggaran yang fantastis lalu ditinggalkan begitu saja. Saya tidak tahu apa target Dinas Pariwisata Siak dalam membangun bangunan ini, seperti hanya menghambur-hamburkan uang saja,” kata Gatot, tokoh muda Siak yang ikut melihat kondisi bangunan itu. 

Panggung terbuka yang posisinya menghalangi pemandangan jembatan TASL juga sangat mempriharinkan.

Selain serakan sampah plastik dan kertas, ruangan ganti sebelah kanan menumpahkan aroma air seni, Kaca pada pintu masuk pecah berserakan, dan kondisi lantai kotor dan lembab.

“Hidup saya langsung disergap bau kencing saat saya berdiri baru di pintu ruang ganti,” kata Gatot.

Baca juga: Kabupaten Siak Dapat Jatah Pajak Jalan Tol Pekanbaru-Dumai, Segini Besarannya

Pada ruangan ganti sebelah kiri, terdapat tikar kecil dan kartu remi. Puntung rokok beserta bungkusnya juga berserakan.

Dindingnya penuh coretan dengan spidol, dengan coretan kata-kata kotor, gambar tidak senonoh dan kata-kata tidak pantas lainnya. 

“Ini tandanya ruangan ganti panggung terbuka ini telah menjadi lokasi berkumpulnya anak-anak muda yang rendah etika. Sama sekali tidak terkontrol, dan saya yakin ruangan-ruangan tanpa pengawasan ini sudah disalahgunakan,” kata Gatot.

Kondisi bangunan lainnya juga tak kalah kotornya. Padahal di kawasan ini Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Permukiman (PU Tarukim) sedang membenahi lokasi agar menjadi destinasi wisata baru. 

“Sangat disayangkan program Dinas Pariwisata Siak seperti ini. Kondisi ini membuat kita amat prihatin, karena pencitraan secara keseluruhan di tubuh Pemkab sangat baik, tapi pada realitanya kita kecewa dengan proyek pembangunan yang terkesan menghambur-hamburkan uang,” kata Gatot.

Menurut Gatot, Bupati Siak Alfedri mesti melakukan evaluasi besar-besaran, agar yang tidak bermanfaat hari ini dapat bermanfaat di masa mendatang.

Covid-19 tidak sewajarnya didengung-dengungnya untuk alasan tidak memanfaatkan aset demi kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: Gerak Cepat, Pemkab Siak Bangun Sarana Permainan Anak dengan View Jembatan TASL

“Kita terima alasan Covid-19 , namun pertanyaannya kemudian, bukankah karena pandemi Covid 19 ini Dinas Pariwisata Siak dituntut untuk tetap bekerja maksimal. Lihatlah kondisi bangunan ini, dijadikan tempat maksiat oleh orang tak dikenal, lalu siapa yang bertanggung jawab?,” kata Gatot.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved