Destinasi Wisata di Kampar

Kisah Nenek Mariani Pengrajin Anyaman Rumbia dari Kampar, Diajari Orangtua Sedari Kecil

Dengan jarinya, nenek ini begitu mahir membuat anyaman. Beberapa hasil anyamannya dipamerkan di stan dalam kunjungan menteri tersebut. 

Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Mariani sedang membuat anyaman, Minggu (12/9/2021) 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU - Seorang nenek menjadi pusat perhatian orang yang datang melihat kunjungan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno di Objek Wisata Puncak Kompe Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar Riau Minggu (12/9/2021) lalu.

Dengan jarinya, nenek ini begitu mahir membuat anyaman. Beberapa hasil anyamannya dipamerkan di stan dalam kunjungan menteri tersebut. 

Dialah Mariani, nenek 62 tahun warga Desa Koto Mesjid . Ia asyik membuat anyaman di tengah keramaian yang memperhatikannya.

Ia tetap fokus menyimpul tiap helai rumbai kering untuk membentuk wadah petak berukuran sekitar 10x5 sentimeter itu.

Tampak di sekililingnya beberapa hasil anyaman hasil karya tangan sang nenek. Ada tikar, keranjang yang kata Mariani bisa digunakan sebagai tempat nasi. 

"Ini baru tadi mulai saya kerjakan," ucap Mariani menunjukkan anyaman yang sedang dikerjakannya.

Kerajinan berukuran kecil bisa diselesaikannya kurang dari sehari. Tetapi untuk anyaman yang lebih besar, bisa berhari-hari. Tikar misalnya. Lama pengerjaannya bisa sampai dua pekan. 

Membuat anyaman memberi kesenangan tersendiri bagi Mariani. Di usianya yang sudah tua, ia bisa menghabiskan waktu luangnya dengan menganyam. 

BACA JUGA :

Penuh Pesona, Ternyata TNBT Menyimpan Berbagai Jenis Anggrek Langka yang Dilindungi

Belajar Sejarah Melalui Uang Kuno, Kolektor Ini Miliki Koin Majapahit, VOC Hingga Kerajaan Siak

Keterampilan yang dimilikinya ini bukanlah pekerjaan utama. Sehari-hari, Mariani bertani di desanya. "Ini sampinga saja," katanya. Tetapi, keterampilan ini sudah digelutinya sejak puluhan tahun.

Mariani mewarisi kerajinan ini dari orangtuanya. Ia sudah belajar menganyam sejak anak-anak.

Diajari oleh orangtuanya. Dahulu, ayaman dari rumbia ini merupakan mata pencaharian keluarganya selain bertani.

Ia memanfaatkan rumbia yang bangak tumbuh di desanya. Mariani dan masyarakat setempat menyebutnya "umbio".

Jika dikeringkan, seperti pandan berduri yang juga banyak dimanfaatkan untuk bahan anyaman. 

Menurut Mariani, umbio lebih kuat dari daun pandan berduri. "Kalau pandan, kena air mudah patah. Tapi umbio ini, lebih tahan," terangnya, namun kini, umbio kian terbatas dan sulit didapatkan. 

Keterampilan ini memberi Mariani tambahan penghasilan. Hasil anyamannya sudah banyak yang dijual dengan harga beragam. Ayaman tikar paling mahal dengan harga Rp 200 ribu per helai.

( Tribunpekanbarutravel.com )

Pengembangan Tempat Wisata dalam Kawasan Hutan Terbentur Aturan, Ini Solusi dari Menteri Sandiaga

Melihat Sendal Anyaman Daun Pandan Produk Kelompok Kerajinan Tangan Sakai, Unik dan Ramah Lingkungan

Seluruh Wilayah di Riau Sudah Masuk Musim Hujan, BMKG Ingatkan Waspada

Jaga Hutan Riau Tetap Lestari, Program Adopsi Pohon Disambut Positif

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved