Menikmati Kuliner Legendaris di Pondok Yurika, Mulai dari Sambal Nenas Hingga Ikan Asam Pedas Sungai

Pondok Yurika yang berlokasi di Jalan Sutomo Pekanbaru ini memang menjadi tempat bernostalgia selera bagi para pecinta kuliner melayu.

Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Menu unggulan dan menjadi ciri khas Pondok Yurika yakni Mie Ciknoy siap disajukan kepada pelanggan. 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, PEKANBARU - Siapa yang tak kenal Pondok Yurika, kuliner di Pekanbaru khas melayu yang sarat dengan masakan legendaris,

Kini masakan jenis ini memang tidak terlalu banyak dijumpai lagi.

Di rumah makan yang berlokasi di Jalan Sutomo Pekanbaru ini, memang menjadi tempat bernostalgia selera bagi para pecinta kuliner melayu.

Bahkan tidak sedikit pengunjungnya setiap hari. Tidak hanya itu, banyak juga lembaga dan instansi yang sudah bertahun-tahun catering untuk makan siang dengan masakan khas Pondok Yurika .

Sebut saja masakan Ikan Asam Pedas Sungai Asli, Baung, Pindang Patin, Pidang Baung, Udang, Anyang, dan beragam lauk khas melayu lainnya, dengan rasa yang sangat natural khas melayu.

Apalagi pemilik rumah makan ini sudah sejak tahun 1994 menggeluti usaha masakan khas melayu ini.

“Di sini kita juga menyediakan beragam sambal khas melayu, misalnya sambal mentah yang pakai kuini, mangga, ada juga yang pakai nenas, dan sambal khas melayu lainnya,” kata Nurlaili, pemilik rumah makan pondok Yurika beberapa waktu lalu.

Nurlaili menceritakan, keberadaan Pondok Yurika Pekanbaru saat ini di Jalan Sutomo sudah belasan tahun.

Namun sebelum itu, usahanya ternyata sempat berpindah-pindah lokasi, bahkan ia juga memiliki pengalaman down dalam menjalankan usaha, ketika ia kehilangan suami yang dicintainya, sebelum pindah ke lokasi saat ini.

Baca juga: Sedapnya Ketupat Serundeng, Kuliner Khas Masyarakat Bengkalis Saat Lebaran

Usahanya tersebut berawal dari usaha catering untuk makan buruh pabrik di salah satu perusahaan besar di Kabupaten Pelalawan .

Tidak sedikit jumlahnya, yakni untuk 1.000 hingga 2.000 buruh. Namun dengan cita rasa yang khas, masakannya pun tetap dipilih untuk memenuhi makan buruh bertahun-tahun lamanya.

Mulai memasuki masa krisis moneter pada tahun 1996, Nurlaili merasa harus mulai mencari usaha di tempat yang lain, untuk antisipasi berhenti langganan untuk buruh pabrik tersebut.

Ia kemudian membuka usaha di Pekanbaru pada tahun 1997, di jalan Arengka atau Soekarno Hatta, tepatnya di depan Damai Langgeng.

Benar saja, pada tahun 1998, puncak krisis moneter, ia harus berhenti mengisi makanan untuk buruh pabrik, akhirnya ia fokus ke rumah makan yang sudah dibuka di Kota Pekanbaru .

Selama 2 tahun berada di sana, ia kemudian pindah lagi ke Jalan Sudirman, tidak jauh dari Hotel Pangeran.

Baca juga: Enaknya Kue Palito Daun, Makanan Khas Kampar yang Pernah Mendapat Rekor Muri

Ia sempat beberapa kali lagi pindah tempat, untuk mendapatkan lokasi yang lebih baik.

Cukup banyak juga suka duka yang ia lalui dalam menjalani usaha tersebut selama berpindah tempat, namun ia tetap bersemangat bersama suaminya.

Hingga akhirnya ia kehilangan suaminya pada akhir tahun 2001 lalu, saat berjualan di Jalan Hang Tuah Pekanbaru. Itulah yang membuatnya down dan kehilangan semangat.

“Sempat 2 bulan saya vakum dalam menjalankan usaha. Rumah makan sebenarnya tetap jalan oleh karyawan, tapi saya tidak mau mengurus lagi. Saya benar-benar kehilangan semangat ketika itu. Hingga akhirnya kawan-kawan menyemangati saya, dan meminta agar saya kembali menjalankan usaha,” katanya.

Pada tahun 2004, kemudian ia pindah ke Jalan Sutomo Pekanbaru. Di sinilah ia menyewa tempat yang cukup lama, dan masih tetap bertahan sampai saat ini. Selain strategis dan mudah diakses, lokasi yang sejuk, banyak pohon membuat pelanggannya semakin betah untuk menyantap kuliner di sana.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved