Cerita Bandar Bakau, Bandarnya Kota Dumai

Hutan Bakau yang dinamakan Bandar Bakau itu seluas hampir 12 hektare dan menyimpan perjuangan panjang Darwis Muhammad Saleh.

Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Darwis Muhamad Saleh atau yang akrab dipanggil Atuk Wis di Bandar Bakau Dumai 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, DUMAI - Terdapat cerita menarik di balik Bandar Bakau , Kota Dumai

Hutan yang terhampar seluas hampir 12 hektare itu menyimpan perjuangan panjang Darwis Muhammad Saleh .

Atuk Wis atau Pak Wis biasa dia dipanggil. Lelaki hitam legam berusia 51 tahun itu sudah mendiami kawasan tersebut lebih 20 tahun.

Saat disambangi Tribunpekanbaru.com di kediamannya di dalam kawasan Bandar Bakau beberapa waktu lalu, Pak Wis hanya mengenakan celana panjang berbahan jins dengan warna biru yang mendekati pudar.

Hutan bakau tersebut sangat teduh disaat siang menuju sore. Dia tengah bersantai diatas hammok yang diikatkan diantara dua batang bakau dekat dengan pondok tempat dia menghabiskan waktu sehari-hari.

"Awak lagi santai, apo cito? Marilah," katanya menyapa.

Dia pun mengajak duduk sambil minum kopi di pinggiran pantai. Sambil menyusuri jalur jalan yang ia buat menuju pinggir pantai berbahan kayu dan semen di beberapa bagian.

Bandar Bakau nampak sepi dari pengunjung. Maklum saja, bukan hari libur. Biasanya orang menghabiskan waktu di kawasan itu pada akhir pekan atau pada kegiatan-kegiatan tertentu saja.

Pak Wis nampak sehat. Dengan rambut yang hampir memutih semua karena termakan usia, ayah tiga anak ini tetap semangat menceritakan Bandar Bakau , lahan yang ia perjuangkan eksistensinya 20 tahun belakangan.

"Saya masuk ke Bandar Bakau itu tahun 1999. Dulu belum Bandar Bakau namanya, masih disebut orang museum bakau atau hutan saja," kata Pak Wis .

Pilihannya untuk menempati kawasan itu bermula ketika PT Pelindo 1 Dumai hendak melebarkan areal pelabuhan ke arah Bandar Bakau dari Delta Sungai Dumai .

Pak Wis muda memutuskan untuk melakukan protes dengan cara melakukan okupasi atau pendudukan terhadap lahan di dekat Delta Sungai Dumai tersebut.

"Banyak sekali cerita pada saat itu. Mulai dari diusir, disogok untuk pindah. Tapi saya tak mau pindah hingga akhirnya saya kalah dan bergeser ke Bandar Bakau ini," paparnya.

Di Bandar Bakau itu ia memulai kembali memperjuangkan kawasan tersebut supaya tidak digusur oleh pelebaran pelabuhan Fase IV .

"Alhamdulillah, sampai saat ini Bandar Bakau masih bertahan," cerita Pak Wis panjang.

Cafe Redam Piloe di Kawasan Hutan Bandar Bakau
Cafe Redam Piloe di Kawasan Hutan Bandar Bakau (Dok Tribun Pekanbaru)

Pemilihan nama Bandar Bakau itu, kata Pak Wis, adalah mengambil ide dari penamaan Bandar Serai di Kota Pekanbaru.

Sebagaimana lazimnya orang Melayu, Bandar adalah pusat segala aktifitas dan transaksi dilakukan. Bandar juga identik dengan keramaian dan keriuhan massa.

"Kalau di Pekanbaru ada Bandar Serai, kenapa Dumai tak punya? Saya buatlah namanya pada 2010 Bandar Bakau dan nama itu pula yang dipakai sampai sekarang untuk menyebut kawasan ini," jelasnya.

Bukan tanpa alasan Pak Wis mempertahankan kawasan Bandar Bakau masih eksis hingga sekarang.

BACA JUGA :

Asyiknya Ngopi di Cafe Redam Piloe Bandar Bakau Dumai, Pilu dan Penat Sirna Seketika

Perbaikan Jembatan Susur & Pasar Purbakala, Bandar Bakau Dumai Hadirkan Wajah Baru yang Lebih Fresh

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved