Kuliner di Pekanbaru

Bertahan Saat Pandemi, Ini Kisah Wanita Penjual Lopek Bugi di Jalan Lintas Pekanbaru-Bangkinang

Bersebelahan dengan Jembatan Kembar Danau Bingkuang, tempat oleh-oleh lopek bugi tetap bertahan di tengah hantaman pandemi Covid-19 .

Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Pusat oleh-oleh lopek bugi di Jalan Lintas Pekanbaru-Bangkinang, Desa Palung Raya Kecamatan Tambang , Kabupaten Kampar , Provinsi Riau 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM, KAMPAR - Pusat oleh-oleh lopek bugi di Jalan Lintas Pekanbaru-Bangkinang, Desa Palung Raya Kecamatan Tambang , Kabupaten Kampar , Riau begitu ikonik.

Bersebelahan dengan Jembatan Kembar Danau Bingkuang, tempat ini tetap bertahan di tengah hantaman pandemi Covid-19 .

Senyum penunggu warung tetap ramah menyapa pengguna jalan yang melintas.

Ada yang tetap duduk di bangkunya dan ada yang bergegas berdiri saat melihat kendaraan melambat.

Senyum ramah mereka lemparkan ke arah kendaraan yang melambat. Senyuman itu menarik perhatian pengguna jalan untuk berhenti di depan warungnya.

Hampir setiap warung ditunggui wanita yang selalu setia duduk di bangku dekat etalase dagangannya.

Di kawasan ini, ada puluhan warung yang berjejer di sisi kanan dan kiri jalan itu. 

Kendaraan akan melewati pusat oleh-oleh khas Kampar yang membentang sepanjang kurang lebih 300 meter tersebut.

Baca juga: Pentol Gaspol Sajikan Ragam Kuliner Pentol, Ada Pentol Udang, Mercon, Keju, Sosis Hingga Ceker

Senyum wanita berhijab penunggu warung itu telah menjadi sebuah kekhasan. Metode pemasaran ini sudah digunakan selama belasan tahun. 

Nurlela adalah salah seorang pemilik warung lopek bugi di tempat itu. Letaknya di tengah sisi sebelah kiri jika arah perjalanan menuju Bangkinang atau Provinsi Sumatera Barat .

Sama seperti wanita lain, Nurlela juga melempar senyum saat Tribunpekanbaru.com melambat mendekati warungnya, Kamis (14/10/2021).

Ia pun berdiri ketika warungnya disambangi. "Kalau laki-laki (penunggu warung) mana ada yang mau berhenti (membeli)," ucap Nurlela saat ditanyai Tribunpekanbaru.com ihwal lazimnya wanita sebagai penjaga warung. 

Lepat bugi atau biasa disebut lopek bugi
Lepat bugi atau biasa disebut lopek bugi (Dok Tribun Pekanbaru)

Nurlela pun menunjukkan beberapa kotak lopek bugi yang disusun. Ia menawarkan tiga pilihan varian lopek bugi .

Ada lepat yang terbuat dari bahan ketan hitam, ketan putih dan ketan yang bercampur durian. 

Lopek bugi memang penganan yang terbuat dari ketan. Jika diartikan, kata "lopek" artinya lepat dan "bugi" artinya ketan yang ditumbuk halus.

Dahulu kala, ketan yang ditumbuk dengan lesung sampai halus inilah kemudian disebut dengan bugi.

Baca juga: Mengenal Bolu Berendam dan Air Mata Pengantin, Sajian Mewah Khas Inhu yang Baru Dipatenkan

Tiap kotak lopek bugi dibanderol Rp10 ribu . "Satu kotaknya berisi delapan lopek," kata Nurlela. Harganya cukup terjangkau. Di samping itu, rasanya juga sangat enak. 

Keistimewaan dari lopek bugi adalah bisa bertahan lebih lama. Tak cepat basi. Padahal, adonan lepat berbahan santan dan isian di tengahnya kelapa parut.

Proses pembuatan dan bahan yang digunakan sama seperti lepat biasa di daerah lain. Tetapi pembuatannya lebih lama. Kelapa parut untuk isian lepat disangrai cukup lama.

Kelapa parut dicampur dengan gula, sedikit vanilla, garam secukupnya dan daun pandan agar aromanya wangi.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved