Dewan Tolak Keras Pembangunan Tenda Elektrik di Masjid An Nur Riau, Ini Alasannya

Pembangunan Tenda Elektrik di Mesjid Raya An Nur Provinsi Riau sudah masuk dalam proses lelang di LPSE,

Editor: Theo Rizky
tribunpekanbarutravel.com/Theo Rizky
Masjid Agung An Nur Provinsi Riau 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM -  Pembangunan tenda elektrik di Masjid Raya An Nur Provinsi Riau sudah masuk dalam proses lelang di LPSE, rencana tersebut ditolak keras anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau, karena bantuan rumah ibadah masih belum dianggarkan.

Sudah tiga tahun masa pemerintahan Syamsuar-Edi Natar, anggaran bantuan rumah ibadah tidak pernah terealisasi, ini dianggap tidak etis ketika ada pembangunan tenda elektrik yang dianggarkan Rp46 Miliar di APBD itu.

"Kami di Dewan, menolak keras pembangunan tenda elektrik, karena sudah tiga tahun ribuan rumah ibadah, mulai mesjid, musalla, gereja tidak pernah diperhatikan Pemprov,"ujar Sekretaris Komisi IV DPRD Riau Sugeng Pranoto.

Baca juga: 6 Payung Raksasa Akan Dibangun di Komplek Masjid An Nur Riau Tahun Ini, Anggarannya Capai Rp 42 M

Menurut Sugeng, lebih baik Syamsuar atau pemerintah daerah mengutamakan pembangunan atau bantuan untuk rumah ibadah di Riau, daripada membangun tenda elektrik tersebut.

"Saya rasa Kebijakan ini tidak hanya menyakiti hati Dewan, tapi ribuan pengurus rumah ibadah akan sakit hati, masak iya bangun tenda 46 Miliar bisa, sementara sebelumnya untuk rumah ibadah yang jumlahnya ribuan di Riau hanya Rp33 miliar namun ditolak,"ujar Sugeng.

Untuk diketahui sendiri menurut Sugeng, sebelumnya untuk bantuan rumah ibadah ini sudah diverifikasi tiga tahun lalu, Pemprov sudah panggil pengurus sudah lengkap semua dan sudah dianggarkan Rp33 miliar.

"Tiba-tiba dibatalkan oleh Gubernur. Ini tentu setiap kita anggota Dewan saat reses ditagih oleh masyarakat, kita kadang-kadang kehilangan muka, sudah tiga tahun ditolak terus,"jelas Sugeng.

Baca juga: Mengenal Masjid Agung An Nur Pekanbaru, Salah Satu Masjid Termegah di Riau

Sementara yang menyakitkan lagi bagi masyarakat, menurut Sugeng, kalau An Nur beli payung elektrik langsung dikabulkan, setelah sebelumnya di APBD 2021 sempat ditunda pembangunannya.

"Ribuan mesjid diakomodir dewan ditolak, kenapa beli payung langsung di ACC pak Gubernur, masjid itu sudah didatangi dan sudah oke tinggal pencairan malah ditolak. Jelas itu sakit hati mereka,"ujar Sugeng.

Sugeng meminta bila terus Gubernur ngotot membangun payung elektrik, maka harus mau dulu menganggarkan untuk bantuan rumah ibadah.

"Kalau tetap ngotot merealisasikan payung mesjid An Nur itu, cairkan dulu jangan buat malu pengurus mesjid dan dewan sudah berjanji," ujarnya.

Jika alasan Pemerintah Provinsi untuk pengembangan wisata religi , menurut Sugeng tidak masuk akal, karena lebih bagus diutamakan dulu kebutuhan utama rumah ibadah daripada payung yang tujuannya kebutuhan kedua.

"Jadi kalau soal itu nanti dulu, utamakan lah kebutuhan utama dan mendesak di rumah ibadah, kebutuhan primer dulu baru sekunder, lagipula untuk rumah ibadah hanya Rp10 juta bantuannya per rumah ibadah,"ujar Sugeng.

Karena menurut politisi PDI Perjuangan ini, lebih baik memberikan fasilitas kepada orang untuk melaksanakan ibadah (salat) daripada membangun tenda elektrik bukan untuk salat.

"Ada apa, kok dipaksain betul itu proyek, jangan orang yang tidak solat difasilitasi wisata religi, sementara orang solat tidak dibantu,"jelasnya

( Tribunpekanbarutravel.com )

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved