Dimulai dari Abad 19, Begini Sejarah Panjang Masyarakat Tionghoa di Selatpanjang

Situs sejarah yang melekat bagi masyarakat Selatpanjang adalah Kelenteng Hoo Ann Kiong yang diyakini sebagai klenteng tertua yang ada di Riau.

Editor: Theo Rizky
Dok Tribun Pekanbaru
Suasana Klenteng Hoo Ann Kiong, Di Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Riau Jumat (20/1/2023). 

TRIBUNPEKANBARUTRAVEL.COM - Perayaan Imlek tahun 2023 ini menjadi hal yang istimewa bagi warga Tionghoa khususnya yang berada di Selatpanjang , Kabupaten Kepulauan Meranti Riau.

Perayaan tahun ini menjadi momentum bagi masyarakat Tionghoa di Kabupaten termuda di Riau itu untuk bisa merayakan lebih meriah setelah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah dicabut pemerintah

Sejak awal tahun, kemeriahan menyambut Tahun Baru Imlek sudah sangat terasa di kota sagu ini.

Berbagai hiasan dari lampion dan pernak-pernih Imlek tampak terlihat di sejumlah ruas jalan di kota Selatpanjang.

Bagaimana tidak untuk memeriahkan Imlek tahun ini, Pemerintah kabupaten juga melombakan lampion di Selatpanjang dan akan diumumkan pada tanggal 26 Februari malam pada saat ramah tamah di rumah dinas Bupati Kepulauan Meranti.

Baca juga: Asal Usul dan Makna Lampion Merah saat Imlek

Perayaan Imlek di Selatpanjang juga tidak lepas dari sejarah kehadiran masyarakat Tionghoa di Kepulauan Meranti.

Situs sejarah yang melekat bagi masyarakat Selatpanjang adalah Kelenteng Hoo Ann Kiong yang berada di jalan Ahmad Yani Kecamatan Tebingtinggi dan diyakini sebagai klenteng tertua yang ada di Riau.

Kelenteng yang dikenal dengan nama Vihara Sejahtera Sakti ini dipercaya telah berusia sekitar 150.

Tribun sempat melihat berkunjung dan melihat persiapan kleteng di sana.

Suasana Klenteng Hoo Ann Kiong, Di Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Riau Jumat (20/1/2023).
Suasana Klenteng Hoo Ann Kiong, Di Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Riau Jumat (20/1/2023). (Dok Tribun Pekanbaru)

Sejumlah hiasan dan pernak-pernik Imlek juga tampak terpasang mengisi langit terbuka halaman Kelenteng.

Beberapa pengurus klenteng juga terlihat tengah sibuk membersihkan dan memasang lampu tambahan di beberapa bagian klenteng menjelang perayaan Imlek.

Kelenteng ini memang telah menjadi ikon di kota Selatpanjang dan menjadi sasaran wisatawan maupun warga Tionghoa dari berbagai daerah dan negara untuk melakukan ibadah terutama saat perayaan Tahun Baru Imlek.

Baca juga: Alasan Kenapa Harus Pakai Baju Warna Merah saat Imlek

Pengurus Klenteng Vihara Sejahtera Sakti Antono mengatakan sejarah panjang klenteng dimulai sekitar abad 19 (kira-kira tahun 1850) dimana pulau Tebingtinggi masih berupa hutan belantara. 

Saat itu para warga Tionghoa yang merantau banyak kemudian menetap di sana dengan membuka usaha kayu gelondongan, membabat hutan untuk menanam karet, sagu dan membuka lahan pertanian untuk menanam padi dan sayur-sayuran, serta membangun infrastruktur dasar seperti jalan dan jalur irigasi.

Untuk memohon perlindungan dan kesejahteraan bagi masyarakat, para warga Tionghoa membangun sebuah gubuk di tepi pantai, yang terletak di antara rumah Kapitan dan Kantor Pelabuhan Bea Cukai untuk memuja Toa Pek Kong.

Begitu pula di tepi sungai Juling juga didirikan sebuah rumah papan untuk memuja Sian Shi Kong. 

Suasana Klenteng Hoo Ann Kiong, Di Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Riau Jumat (20/1/2023).
Suasana Klenteng Hoo Ann Kiong, Di Selatpanjang, Kepulauan Meranti, Riau Jumat (20/1/2023). (Dok Tribun Pekanbaru)

"Seiring berjalannya waktu, tempat ibadah ini pernah dipindah tempatkan di kantor Asosiasi Hakka yang terletak di tepi pantai. Rumah ibadah Toa Pek Kong menetap di alamat tersebut hingga tahun 1903 (masa Dinasti Qing, Kaisar Kuang Shi tahun ke 29, tahun kelinci), kemudian pindah lagi ke alamat yang sekarang ini dengan mendirikan Klenteng Hoo Ann Kiong," katanya.

Seiring berjalan waktu bangunan vihara pun mulai rusak termakan waktu sampai tahun 1940, pemerintah Hindia Belanda menginstruksikan pelaksanaan renovasi Vihara Hoo Ann Kiong. 

Baca juga: Ini Rangkaian Perayaan Imlek di Selatpanjang, Ada Perang Air, Night Carnival Hingga Festival Lampion

Karena biaya perbaikan yang sangat besar dan pecahnya perang dunia ke II -pasukan Dai Nippon menyerang Asia Tenggara menyebabkan perbaikan vihara berlangsung tersendat-sendat hingga tahun 1948. 

Pada tahun 1951, proyek perbaikan vihara yang telah memakan waktu 11 tahun akhirnya rampung secara sempurna. 

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved